Kisah – Seniman Zambia inspirasi kaum perempuan muda untuk patahkan stereotip

Seniman Elizabeth Banda membuat patung seukuran objek aslinya di Kapiri Mposhi, Zambia tengah, pada 26 Januari 2024. (Xinhua/Lillian Banda)
Kapiri Mposhi Royal Academy, salah satu sekolah yang menggandeng Banda untuk memasang patung seukuran aslinya agar menambah keindahan di lingkungan sekitar, mengatakan bahwa pihak sekolah terinspirasi oleh Banda untuk memperkenalkan seni sebagai sebuah mata pelajaran.
Kapiri Mposhi, Zambia (Xinhua) – Elizabeth Banda (53), yang berasal dari Kapiri Mposhi, Zambia tengah, membuat terobosan dengan karya seninya.Perjalanan seniman Banda dimulai sejak dia duduk di bangku sekolah dasar lebih dari tiga dekade silam. Dia masih ingat dengan jelas saat pertama kali tangannya menyentuh tanah liat, membentuk tanah liat itu menjadi berbagai benda dengan bimbingan gurunya."Saya senang membuat sesuatu dari tanah liat. Sebagai seorang remaja, saya menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakan keterampilan saya dan berharap dapat menghasilkan karya seni yang hebat," tuturnya.Namun, tanggung jawab hidup lebih diutamakan, memaksanya untuk mengesampingkan aktivitas artistiknya dan memprioritaskan diri menjadi ibu rumah tangga. Banda menikah muda dan kemudian memiliki delapan anak, tujuh di antaranya telah meninggal dunia.Meskipun demikian, takdir berkehendak lain untuknya. Sebuah pertemuan dengan para wanita yang terlibat dalam pembuatan pot tanah liat dan ornamen sederhana sekitar satu dekade yang lalu menghidupkan kembali semangatnya.Berbekal bakat bawaannya, Banda memulai bakat seninya kembali. Dia mengubah sebagian rumahnya menjadi studio seni sementara, tempat dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membuat benda-benda unik dari tanah liat atau semen yang dicampur pasir."Saya menyadari bahwa jika saya dapat menciptakan sesuatu dari tanah, saya dapat membawa sukacita ke dalam kehidupan banyak orang sekaligus menghidupi keluarga saya," ujar Banda saat menggarap sebuah karya yang menggambarkan seorang pelajar sedang membaca buku. Karya ini dipesan oleh sebuah sekolah di Kota Kapiri Mposhi.Karya seninya, yang masing-masing berharga 100-1.000 kwacha Zambia atau sekitar 3,7-37 dolar AS, bervariasi mulai dari patung kecil hingga bejana yang rumit, katanya.
Foto yang diabadikan pada 23 Agustus 2023 ini menunjukkan sebuah perahu di Sungai Zambezi di Zambia. (Xinhua/Wang Guansen)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Fokus Berita – 9 orang tewas, 1.000 lebih luka-luka akibat gempa magnitudo 7,3 di Taiwan
Indonesia
•
05 Apr 2024

TikTok umumkan sejumlah langkah baru untuk lindungi data pengguna di Eropa
Indonesia
•
09 Mar 2023

FAO terima hibah Bank Dunia untuk dukung ketahanan pertanian di Yaman
Indonesia
•
14 Dec 2022

Pakar Spanyol desak negara-negara untuk beradaptasi dengan tantangan demografis
Indonesia
•
12 Jul 2024
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Antisipasi wabah Nipah, Singapura akan terapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026
