
Negara-negara UE di Mediterania serukan tindakan konkrtet atasi migrasi ilegal

Foto yang diabadikan pada 2 Maret 2020 ini memperlihatkan para pengungsi dan migran yang turun dari perahu setelah tiba di Skala Sikaminias yang terletak di Pulau Lesvos, Yunani. (Xinhua/Marios Lolos)
Kesepakatan migrasi dan suaka baru diharapkan tuntas sebelum pemilihan Parlemen Eropa tahun depan, guna memenuhi kebutuhan negara-negara garis depan Uni Eropa (UE) yang menerima sebagian besar migran.
Valletta, Malta (Xinhua) – Para pemimpin sembilan negara Eropa selatan menyerukan agar Uni Eropa (UE) memfinalisasi kesepakatan migrasi dan suaka baru sebelum pemilihan Parlemen Eropa tahun depan, serta meningkatkan upaya-upaya untuk mencegah keberangkatan migran dari Afrika Utara.Kebutuhan negara-negara garis depan UE yang menerima sebagian besar migran harus "terpenuhi secara memadai," misalnya dengan meningkatkan operasi pengawasan di perbatasan eksternal UE untuk memutus jaringan perdagangan manusia, menurut pernyataan bersama yang dikeluarkan pada akhir Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Med9 pada Jumat (29/9) di Malta.Selain Malta, negara-negara yang berpartisipasi dalam pertemuan yang berlangsung selama satu hari itu termasuk Prancis, Yunani, Italia, Kroasia, Siprus, Portugal, Slovenia, dan Spanyol.Mereka juga menyerukan pendekatan baru untuk meningkatkan laju pemulangan para pencari suaka yang ditolak dan warga negara ketiga lainnya yang tidak memiliki hak hukum untuk tinggal di UE, dan untuk mengatasi akar masalah migrasi ilegal dengan tetap menghormati perlindungan hak-hak dasar dan kewajiban internasional."Sangat penting untuk bekerja sama dengan mitra internasional dan negara tetangga, saling memperhatikan satu sama lain, dan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah-masalah kita," ujar Perdana Menteri Malta Robert Abela dalam sebuah konferensi pers di akhir KTT itu.Abela mengatakan bahwa hubungan UE dengan kawasan Mediterania Selatan membutuhkan "penataan ulang," sehingga hubungan tersebut lebih dari sekadar bantuan dan membantu negara-negara untuk memanfaatkan potensi teknologi mereka dengan lebih baik."Pada akhirnya, isu tersebut perlu ditangani di sumbernya, jadi kami membutuhkan bantuan yang lebih kuat di negara-negara asal (migran)," ujarnya.Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan bahwa sudah waktunya untuk menangani migrasi "secara konkret, terstruktur, dan mudah-mudahan secara definitif.""Kita mungkin menjadi pihak pertama yang terdampak krisis migrasi, namun hal itu juga akan berdampak pada banyak negara lain," ujarnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Hamas sebut lebih dari 60 sandera hilang akibat serangan udara Israel
Indonesia
•
05 Nov 2023

Jepang, Australia, Selandia Baru jatuhkan hukuman pada Rusia setelah invasi Ukraina
Indonesia
•
25 Feb 2022

Jubir Kemenlu China: Penyelesaian isu di perbatasan China-India jadi kepentingan kedua pihak
Indonesia
•
15 Mar 2024

Erdogan tawarkan diri jadi penengah dalam perselisihan terkait PLTN Zaporizhzhia
Indonesia
•
04 Sep 2022


Berita Terbaru

Feature – Saat ekonomi terpuruk, makanan gratis jadi harapan bagi warga rentan di Sanaa, Yaman
Indonesia
•
17 Mar 2026

Fokus Berita – Misi militer AS di Selat Hormuz ditolak sekutu Eropa
Indonesia
•
17 Mar 2026

Komandan Korps Garda Revolusi sebut Selat Hormuz tidak ditutup, tetapi berada di bawah kendali Iran
Indonesia
•
17 Mar 2026

Iran tak minta gencatan senjata atau negosiasi, siap bela diri selama yang diperlukan
Indonesia
•
17 Mar 2026
