
Studi genomik ungkap ancaman perkawinan sedarah pada koala di Pulau Kanguru, Australia

Seekor bayi koala tampak tidur di sebuah pohon di Taman Margasatwa Featherdale Sydney di Sydney, Australia, pada 4 Oktober 2024. (Xinhua/Ma Ping)
Koala di Pulau Kanguru, Australia Selatan, menanggung beban genetik yang berat akibat perkawinan sedarah.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah penelitian genomik baru mengungkapkan bahwa meskipun memiliki populasi yang besar, koala di Pulau Kanguru, Australia Selatan, menanggung beban genetik yang berat akibat perkawinan sedarah.Dibandingkan dengan populasi di daratan utama dari negara bagian Victoria dan Queensland di Australia, para peneliti menemukan bahwa koala di Pulau Kanguru memiliki keragaman genetik yang rendah dan banyak segmen DNA yang panjang dan identik diwariskan dari kedua induk, sebuah ciri khas dari perkawinan sedarah, demikian menurut pernyataan yang dirilis pada Selasa (16/9) oleh Universitas Flinders Australia.Berawal dari tak sampai 24 ekor koala yang dipindahkan dari Negara Bagian Victoria pada 1920-an, hambatan genetik di Pulau Kanguru ini meningkatkan risiko masalah kesuburan dan perkembangan, kata pernyataan tersebut.Meskipun populasi koala Pulau Kanguru sebagian besar tahan terhadap penyakit menular, seperti klamidia dan retrovirus koala, keragaman genetiknya yang terbatas dapat membuat koala itu rentan terhadap ancaman di masa depan, misalnya wabah penyakit lain dan perubahan iklim, lanjut pernyataan itu.Para ilmuwan merekomendasikan penyelamatan genetik, yaitu memasukkan koala dari populasi-populasi daratan utama, untuk memperkuat ketahanan mereka."Pulau Kanguru memiliki potensi untuk tetap menjadi tempat perlindungan konservasi yang penting bagi koala. Namun tanpa manajemen genetik, 'bahtera' ini bisa menjadi perangkap," kata Profesor Luciano Beheregaray dari Universitas Flinders.Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology ini menyoroti pentingnya pemantauan genomik berkelanjutan untuk spesies-spesies yang dikelola secara terisolasi, imbuh Beheregaray, peneliti utama dalam penelitian tersebut.Fakta unik koalaKoala, salah satu marsupial berkantung ikonis Australia, memiliki bulu abu-abu kecokelatan tebal dengan telinga berbulu halus berujung putih, dengan proporsi tubuh yang mirip dengan bayi manusia.Koala Pulau Kanguru sedikit berbeda dengan rekan-rekan mereka di Queensland dan News South Wales dalam penampilan dengan bobot tubuh yang lebih besar, bulu yang lebih panjang, dan telinga yang lebih halus. Koala jantan dewasa dapat memiliki berat hingga 15 kilogram, dan betina hingga 11 kilogram. Koala berkembang biak dari Oktober hingga Mei, dengan anak-anaknya terlihat secara teratur di punggung induknya sepanjang musim semi dan panas. Koala dapat melahirkan anak kembar, meskipun ini jarang terjadi.Koala memakan daun dari beberapa spesies eukaliptus, yang umumnya tumbuh di sepanjang sistem sungai di Pulau Kanguru. Mereka dapat memakan hingga 1 kilogram daun sehari, memiliki cakar yang sangat tajam dan tubuh bagian atas yang sangat kuat yang memungkinkan mereka menjadi pemanjat pohon kelas dunia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Senegal luncurkan jaringan BRT listrik pertama di Afrika Sub-Sahara
Indonesia
•
30 Dec 2023

Badan energi atom China kecam langkah Jepang buang air terkontaminasi nuklir ke laut
Indonesia
•
27 Aug 2023

Biden rilis perintah eksekutif untuk atasi berbagai risiko AI
Indonesia
•
31 Oct 2023

Badan Antariksa China sebut perkembangan program eksplorasi berawak China di Bulan berjalan lancar
Indonesia
•
01 Mar 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
