
Studi ungkap krisis iklim kuno beri peringatan tentang pengasaman laut pada masa kini

Sebuah kapal terlihat dengan latar belakang matahari terbenam di Laut Adriatik di Pula, Kroasia, pada 2 Desember 2024. (Xinhua/PIXSELL/Srecko Niketic)
Kondisi pengasaman laut selama Maksimum Termal Paleosen-Eosen (Paleocene-Eocene Thermal Maximum/PETM) merupakan sebuah peristiwa iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu global secara signifikan dan gangguan besar pada ekosistem.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi kolaboratif oleh para ilmuwan China dan Amerika Serikat telah mengungkap bagaimana pelepasan karbon besar-besaran 56 juta tahun silam berdampak pada kimia laut, memberikan wawasan penting mengenai dampak perubahan iklim pada masa kini.Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience baru-baru ini dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Peking, Universitas Negara Bagian Pennsylvania, Universitas California Riverside, dan sejumlah lembaga lainnya.Tim peneliti tersebut merekonstruksi kondisi pengasaman laut selama Maksimum Termal Paleosen-Eosen (Paleocene-Eocene Thermal Maximum/PETM), sebuah peristiwa iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu global secara signifikan dan gangguan besar pada ekosistem. Studi ini menemukan kesamaan yang mencolok antara pengasaman laut selama PETM dan tren saat ini yang disebabkan oleh peningkatan karbon dioksida di atmosfer.Selama PETM, lonjakan emisi karbon menyebabkan pH laut menurun tajam, sehingga mengurangi ketersediaan ion karbonat yang dibutuhkan oleh organisme laut untuk membentuk cangkang, yang menjadi komponen penting dalam penyimpanan karbon di lautan.Dengan menggunakan asimilasi data paleoklimat, yang menggabungkan catatan proksi dengan simulasi model sistem bumi, para peneliti kemudian merekonstruksi perubahan kimia karbonat laut. Mereka memperkirakan bahwa tingkat karbon dioksida di atmosfer naik dari 890 bagian per juta (parts per million/ppm) menjadi 1.980 ppm selama PETM, disertai dengan penurunan pH laut rata-rata sebesar 0,46 unit."Temuan-temuan ini memberikan peringatan yang jelas untuk masa depan," ungkap Li Mingsong, seorang profesor di Universitas Peking. Dia menambahkan bahwa penurunan pH laut selama PETM sangat mirip dengan proyeksi pada masa kini dalam skenario emisi tinggi.Li memaparkan bahwa tingkat emisi karbon saat ini jauh lebih cepat dibandingkan selama PETM, sehingga menimbulkan ancaman besar bagi ekosistem dan keanekaragaman hayati laut."PETM, yang berlangsung sekitar 200.000 tahun, memberikan analogi alami terhadap apa yang bisa terjadi akibat emisi karbon yang tidak terkendali saat ini," ujar Li. "Emisi yang meningkat semakin cepat yang kita hadapi saat ini menghadirkan ancaman jangka panjang yang lebih besar bagi kehidupan laut, terutama di kawasan yang rentan seperti Arktika."Temuan-temuan ini menjelaskan konsekuensi jangka panjang dari peningkatan emisi karbon dan menyoroti kebutuhan mendesak akan aksi iklim guna melindungi kesehatan laut dan keanekaragaman hayati global, menurut para peneliti tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim peneliti China dirikan platform untuk identifikasi dan pemanfaatan gen unggul padi liar
Indonesia
•
13 Jun 2024

Ilmuwan China lakukan eksperimen deteksi lapisan es di Antartika
Indonesia
•
14 Mar 2025

Ilmuwan sebut galaksi Bima Sakti ternyata "lebih ramping" dari perkiraan awal
Indonesia
•
05 Oct 2022

China capai kemajuan baru dalam pembangunan Sumber Foton Energi Tinggi
Indonesia
•
20 Aug 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
