
Kamboja sulap bekas ladang ranjau jadi lahan subur untuk pertanian, urbanisasi, dan pembangunan

Debu dan asap membubung tinggi saat para penjinak ranjau meledakkan ranjau darat dengan pengendali jarak jauh di sebuah ladang ranjau di Provinsi Siem Reap, Kamboja, pada 16 Januari 2024. (Xinhua/Liao Hongqing)
Ladang ranjau di Kamboja berhasil diubah menjadi lahan subur untuk pertanian, urbanisasi, dan pembangunan, membantu membebaskan jutaan orang dari kemiskinan.
Siem Reap, Kamboja (Xinhua/Indonesia Window) – Kamboja berhasil mengubah lahan yang dahulu merupakan ladang ranjau menjadi lahan subur untuk pertanian, urbanisasi, dan pembangunan, membantu membebaskan jutaan orang dari kemiskinan, kata Perdana Menteri Kamboja Hun Manet di Siem Reap pada Senin (25/11).Dalam pidato pembukaannya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Siem Reap-Angkor tentang Dunia Bebas Ranjau, Manet mengatakan bahwa perekonomian Kamboja, yang rata-rata laju pertumbuhannya berada di kisaran 7 persen per tahun sebelum pandemi COVID-19, telah tumbuh pesat di atas tanah yang bebas dari ranjau."Sekitar 80 persen dari lahan yang berhasil dibersihkan telah dimanfaatkan untuk pertanian, sementara sisanya digunakan untuk perumahan dan pembangunan, termasuk pembangunan infrastruktur penting, guna meningkatkan konektivitas di seluruh negeri, yang memungkinkan ekonomi kita berkembang hingga hari ini," katanya. "Selain itu, hal ini juga telah memungkinkan jutaan wisatawan mancanegara, termasuk investor, untuk mengunjungi Kamboja."Manet mengenang bahwa 54 tahun lalu, Kamboja, yang sebelumnya merupakan negeri yang damai, sempat terseret ke dalam konflik geopolitik Perang Dingin, dan negeri yang merupakan tempat berbagai peninggalan megah seperti Angkor Wat ini kemudian mengalami beberapa tragedi memilukan, termasuk serangkaian bom karpet, genosida, dan perang saudara selama puluhan tahun."Jutaan nyawa warga Kamboja melayang dan ribuan kilometer persegi tanah Kamboja dipenuhi ranjau darat dan sisa-sisa bahan peledak lainnya," katanya.Dia mengatakan bahwa meskipun negara kerajaan itu pada akhirnya mencapai perdamaian penuh pada 1998, ranjau darat terus membayangi dan menimbulkan ancaman mengerikan bagi kehidupan manusia dan pemulihan pascaperang.Dia menambahkan bahwa dengan dukungan kuat dari masyarakat internasional, dari tahun 1992 hingga saat ini, Kamboja telah berhasil membersihkan lebih dari 3.000 kilometer persegi ranjau darat, menghancurkan lebih dari 1 juta ranjau antipersonel dan 3 juta sisa ranjau peninggalan perang.Jumlah korban jiwa telah turun dari rata-rata 4.300 orang lebih per tahun pada 1996 menjadi kurang dari 100 orang per tahun dalam 10 tahun terakhir, katanya."Kita telah mendeklarasikan 15 dari 25 ibu kota dan provinsi sebagai wilayah bebas ranjau," kata Manet. "Namun demikian, perjalanan kita masih jauh dari selesai. Kita masih punya lebih dari 1.600 kilometer persegi lahan yang terkontaminasi, yang memengaruhi kehidupan sekitar 1 juta orang.".Pemimpin Kamboja itu mengatakan bahwa negara Asia Tenggara tersebut telah mengubah sejarah tragisnya menjadi pelajaran yang kuat bagi dunia, dengan mengadvokasi pelarangan penggunaan ranjau antipersonel dan menyoroti konsekuensi jangka panjangnya."Komunitas antiranjau Kamboja terus berbagi praktik-praktik terbaik kami, mentransfer keahlian yang kami peroleh dengan susah payah kepada pihak-pihak lain yang menghadapi tantangan serupa, seperti Ukraina, Afghanistan, Armenia, Azerbaijan, dan negara-negara anggota ASEAN lainnya," tutur Manet.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Sambut Hari Anak Nasional, pelajar di Malang ikuti edukasi konservasi lewat pelepasliaran tukik
Indonesia
•
23 Jul 2026

Sesame Street tampilkan karakter Asia lewat arti Korea Ji-Young
Indonesia
•
15 Nov 2021

Lubang penyimpanan biji-bijian prasejarah ditemukan di China barat laut
Indonesia
•
06 Dec 2025

Niqab dan burqa: Fobia Prancis di tengah pandemik COVID-19
Indonesia
•
24 May 2020


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
