
Lahan basah di China barat laut jadi surga bagi burung migran

Foto yang diabadikan pada 30 April 2022 ini menunjukkan burung-burung migran di rawa alang-alang di Danau Shahu, Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut. (Xinhua/Wang Peng)
Lahan basah Yinchuan kini menjadi surga sejati bagi burung-burung liar, dengan sekitar 240 jenis burung datang untuk membangun sarang selama musim semi dan musim gugur.
Yinchuan, China (Xinhua) – Gu Jincheng setiap hari berjalan-jalan bersama cucunya di Taman Lahan Basah Sungai Kuning di Desa Hetan di Yinchuan, ibu kota Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut. Dia sangat senang melihat perubahan drastis yang dialami tempat itu dari sebuah rawa dengan aroma tidak sedap hingga kini menjadi ladang oksigen alami selama beberapa tahun terakhir.Taman itu sekarang juga berfungsi sebagai tempat perlindungan alami bagi burung-burung migran. Tak banyak yang bisa membayangkan bahwa hanya kurang dari satu dekade lalu, taman itu merupakan sebuah lahan salin-alkali di dekat sungai, dengan hampir tidak ada rumput yang tumbuh dan limbah mentah yang dialirkan melalui saluran air di dekatnya."Airnya berbau busuk, penuh gelembung kotor. Bahkan hewan pun tidak mau meminumnya. Banyak tanaman layu setelah disiram menggunakan air itu," kenang Gu, seraya menambahkan bahwa sungai itu bahkan membuat Desa Hetan, tempat asalnya, menjadi bau.Sejak 2018, sebuah proyek pemurnian lahan basah diluncurkan oleh pemerintah Yinchuan untuk membatasi limbah dan polutan lainnya agar tidak mencemari Sungai Kuning serta melestarikan lingkungan ekologis di sepanjang sungai itu dengan membangun lahan basah dan memodernisasi sistem drainase lokal, kata Cao Jing, kepala cabang ekologi air dan lingkungan, yang merupakan biro ekologi dan lingkungan di kota tersebut."Kota ini mendirikan delapan lahan basah yang dilindungi, termasuk lima lahan basah buatan, dengan total luas 733 hektare," ujar Cao."Total 15 pabrik pembuangan air limbah di Yinchuan juga disempurnakan dan sistem pembuangannya telah direnovasi," imbuhnya.Berkat berbagai upaya ramah lingkungan yang dilakukan pemerintah kota itu, rawa di Desa Hetan kini berubah menjadi filter lingkungan untuk menyerap dan mengendalikan polusi dari kota tersebut, sekaligus berfungsi sebagai taman alami bagi masyarakat setempat dan para pengunjung.Selain itu, taman itu dan banyak lahan basah lainnya di Ningxia di sepanjang Sungai Kuning menjadi sebuah situs yang terkenal di kalangan fotografer dari seluruh penjuru negeri untuk memotret burung-burung yang bermigrasi."Dengan bertambahnya luas lahan basah dan kondisi lingkungan yang semakin baik, habitat yang cocok untuk burung migran pun mengalami peningkatan," kata Li Zhijun, sekretaris jenderal asosiasi pengamatan burung di Ningxia."Banyak burung migran mengubah arah mereka dan mengunjungi Ningxia, yang menambah varietas burung migran di area tersebut," ujar Li.Lahan basah Yinchuan kini menjadi surga sejati bagi burung-burung liar, dengan sekitar 240 jenis burung datang untuk membangun sarang selama musim semi dan musim gugur, peningkatan tajam dibandingkan dengan 169 jenis burung yang tercatat sebelum adanya proyek tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi baru suguhkan wawasan tentang evolusi manusia purba di Asia Timur
Indonesia
•
07 Apr 2025

Arab Saudi mulai era baru reboisasi dengan teknologi
Indonesia
•
24 Oct 2021

Wahana antariksa bermasalah, AS kembali tunda misi Artemis ke Bulan
Indonesia
•
09 Dec 2024

COVID-19 – Kementerian kesehatan Rusia daftarkan dua obat Remdesivir
Indonesia
•
16 Oct 2020


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
