
Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental

Foto yang bersumber dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) pada 17 Agustus 2020 ini memperlihatkan seorang ilmuwan mengumpulkan informasi di Terumbu Karang Ningaloo, Australia. (Xinhua/Yue Dongxing)
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Gelombang panas laut (marine heatwaves) menimbulkan ancaman yang semakin besar terhadap kesehatan manusia, dengan dampaknya tidak lagi hanya mencakup matinya terumbu karang dan turunnya hasil perikanan. Sebuah penelitian baru memperingatkan akan hal tersebut.
Menurut pernyataan yang dirilis pada Selasa (11/8) oleh Universitas Adelaide, tim peneliti dari Universitas Adelaide di Australia dan Universitas Hong Kong di China menyerukan agar gelombang panas laut diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat utama, berargumen bahwa dampak gelombang panas laut terhadap manusia selama ini sebagian besar diabaikan, meskipun semakin banyak bukti menunjukkan konsekuensinya yang luas.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability tersebut menguraikan bagaimana periode berkepanjangan dengan suhu laut yang sangat tinggi dapat memicu serangkaian dampak yang memengaruhi kesehatan manusia, termasuk memperparah cuaca ekstrem, mengurangi pasokan makanan laut, dan meningkatkan tantangan kesehatan mental di komunitas pesisir.
Tim peneliti mengatakan bahwa gelombang panas laut menjadi semakin sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan semakin intens seiring dengan pemanasan iklim. Disebutkan pula bahwa fenomena itu telah dikaitkan dengan kematian massal biota laut, pemutihan karang, pertumbuhan pesat alga berbahaya, serta gangguan pada sektor perikanan dan akuakultur.
Laura Falkenberg dari Universitas Adelaide, penulis utama studi tersebut, mengatakan bahwa dampak gelombang panas laut terhadap manusia mendapat perhatian yang jauh lebih sedikit dibandingkan dampaknya terhadap lingkungan.
Suhu laut yang ekstrem dapat berkontribusi terhadap terbentuknya sistem cuaca yang lebih intens, meningkatkan risiko akibat badai dan banjir, sementara pertumbuhan pesat alga berbahaya dapat mencemari makanan laut dan menimbulkan risiko kesehatan serius.
Penurunan stok ikan dan produksi makanan laut juga dapat mengancam ketahanan pangan bagi miliaran orang, menurut studi tersebut.
Penelitian tersebut juga menyoroti dampak psikologis, termasuk kecemasan, kesedihan, dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya di kalangan masyarakat pesisir yang mata pencaharian dan identitas budayanya berkaitan erat dengan laut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Sekitar 200 orang ikut uji vaksin buatan Vietnam
Indonesia
•
18 Dec 2020

Teknologi AI baru bikin prakiraan badai debu lebih akurat dan 100 kali lebih cepat
Indonesia
•
06 Jun 2026

Ilmuwan Rusia ciptakan bahan tekstil antibakteri
Indonesia
•
19 Mar 2022

SpaceX Crew-6 NASA kembali ke Bumi
Indonesia
•
06 Sep 2023


Berita Terbaru

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026

Ilmuwan kembangkan nanopartikel yang membantu ahli bedah melacak dan membunuh kanker otak mematikan
Indonesia
•
07 Aug 2026
