Opini – Model MSDM Hibrida: Sinergi kekeluargaan dan profesionalisme dalam pengelolaan SDM lembaga Islam kontemporer

manajemen Sumber Daya Manusia

Kusnan, Ketua Yayasan Sayyid Kundori Sekolah HEPI School Bogor, Direktur PT Salam Inti Perniagaan. (Foto: Dokumen pribadi)

Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) menghadapi tantangan yang kompleks untuk menyatukan nilai kekeluargaan yang hangat dengan tuntutan profesionalisme yang ketat.

Dalam dunia organisasi modern, terutama lembaga Islam kontemporer, Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) menghadapi tantangan yang kompleks untuk menyatukan nilai kekeluargaan yang hangat dengan tuntutan profesionalisme yang ketat.

Perdebatan klasik antara pendekatan kekeluargaan yang menekankan kehangatan, kebersamaan, serta empati dan profesionalisme yang berorientasi pada standar, disiplin, serta hasil objektif sering kali menghasilkan dikotomi yang menghambat kemajuan organisasi.

Model hibrida (perpaduan) yang berhasil menggabungkan dua pendekatan ini telah banyak dibahas dalam riset mutakhir dan terbukti memberikan dampak positif bagi transformasi organisasi di berbagai bidang.

Dua kutub nilai ini, bila tidak dikelola dengan tepat, sering kali menjadi sumber konflik atau ketidakseimbangan yang menghambat kemajuan lembaga.

Namun, justru di sinilah peluang besar muncul untuk menciptakan sebuah model hibrida, yang secara harmonis menggabungkan kekuatan keduanya serta berpijak pada nilai-nilai Islami yang moderat dan penuh keseimbangan (tawazun).

Nilai kekeluargaan dalam konteks MSDM pada lembaga Islam bukan sekadar bentuk keakraban biasa, namun mencakup spirit ukhuwah, gotong royong, dan kepedulian mendalam antar anggota organisasi.

Ini menciptakan atmosfer empati dan suportif yang sangat penting untuk mempertahankan loyalitas dan menjaga keharmonisan, sebuah fondasi yang kuat bagi stabilitas jangka panjang lembaga.

Namun, bila semangat kekeluargaan tidak diimbangi dengan profesionalisme, risiko munculnya kelemahan dalam disiplin, objektivitas, dan akuntabilitas menjadi nyata.

Evaluasi yang seharusnya bersifat transparan dan konstruktif bisa terhambat oleh perasaan sungkan atau kekhawatiran menyakiti sesama.

Sebaliknya, profesionalisme menegaskan struktur kerja yang jelas, pengukuran kinerja yang objektif, sistem reward (hadiah) dan punishment (hukuman) yang adil, serta standar tinggi dalam pengembangan kinerja.

Dalam lembaga yang menerapkan profesionalisme secara kuat, segala sesuatu diatur dengan prosedur dan sistematik.

Meskipun ini menjamin efektivitas operasional, jika berjalan tanpa sentuhan nilai kekeluargaan dan spiritual, organisasi bisa lahir menjadi kaku, mekanistis, dan kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang membentuk ruhnya.

Interaksi menjadi semata transaksional dan hubungan antarmanusia menjadi dingin, yang pada akhirnya mengurangi motivasi intrinsik dan semangat kolektif.

Model MSDM hibrida hadir sebagai solusi atas dilema tersebut. Ini bukan sekadar penyatuan mekanis, melainkan menciptakan sinergi yang kuat antara kehangatan kekeluargaan dan ketegasan profesionalisme.

Landasan utama yang menjadi pengikat adalah nilai-nilai Islam yang menekankan keseimbangan (tawazun), keadilan, musyawarah, dan ta’awun (kolaborasi dalam kebaikan).

Prinsip tawazun mengingatkan kita bahwa kehidupan dan pengelolaan organisasi adalah tentang keseimbangan antar kepentingan yang berbeda agar tercapai hasil yang optimal dan berkelanjutan.

Menariknya, model MSDM hibrida ini sangat relevan dan mendesak untuk diterapkan di hadapan realitas demografis generasi Z yang mulai meramaikan lembaga keislaman saat ini.

Generasi Z dikenal dengan karakteristik digital savvy (cerdas), terbuka terhadap nilai keadilan sosial, dan mengidamkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan nilai-nilai personal.

Mereka menolak sistem yang otoriter dan kaku, namun sekaligus menginginkan tantangan profesional yang bermakna.

Oleh sebab itu, MSDM hibrida berbasis nilai Islami tidak hanya menawarkan jalan tengah, tapi juga menjawab kebutuhan dan aspirasi generasi yang revolusioner ini secara efektif.

Di lapangan, implementasi MSDM hibrida membutuhkan komitmen kepemimpinan yang kuat dan konsisten. Pemimpin harus mampu menjadi figur teladan yang mengintegrasikan keadilan dan kelembutan, seraya mengedepankan musyawarah sebagai proses pengambilan keputusan yang inklusif dan humanis.

Digitalisasi proses pengelolaan SDM menjadi aspek penting sebagai jembatan yang mempercepat komunikasi dan monitoring tanpa mengurangi unsur personal dan nilai kekeluargaan.

Pelatihan berkesinambungan, baik dalam hal teknik kerja maupun penguatan nilai spiritual, harus dilakukan secara rutin untuk membangun kapasitas dan integritas sumber daya manusia.

Keberhasilan suatu lembaga Islam kontemporer dalam menjalankan model hibrida ini akan terlihat dari meningkatnya loyalitas staf, produktivitas yang optimal, serta ikatan spiritual dan sosial yang kokoh.

Kinerja bukan hanya soal angka dan target, tapi juga kualitas interaksi dan kesejahteraan mental-emosional seluruh anggota organisasi.

Namun, perubahan bukan tanpa tantangan, karena resistensi budaya lama yang menguat pada sistem hierarki kaku atau praktik nepotisme dapat menghambat adopsi merit-based system (sistem berbasis prestasi) yang menjadi syarat mutlak profesionalisme.

Kesenjangan teknologi antargenerasi juga perlu dijembatani dengan pelatihan dan pendekatan antargenerasi yang saling menguatkan, bukan saling menyingkirkan. Oleh sebab itu, budaya keterbukaan, fleksibilitas, dan evaluasi berkelanjutan harus ditanamkan sejak awal agar proses transformasi berjalan mulus dan berkelanjutan.

Dari sisi nilai Islami, model ini menjadi wujud nyata penerapan prinsip keseimbangan menyatukan dunia material dan spiritual, profesional dan kekeluargaan, ketegasan dan kelembutan yang selama ini diajarkan dalam berbagai ayat dan hadits.

Pendekatan ini juga melahirkan organisasi yang tidak sekadar mengejar target duniawi, tapi juga menjadi ladang ibadah dan amal kebaikan dengan landasan keadilan dan kasih sayang.

Sebagai refleksi, institusi yang mampu menjalankan model MSDM hibrida dengan baik akan menjadi rujukan bagi lembaga lain dan menjadi ujung tombak perubahan sosial positif.

Dengan mengedepankan pendekatan humanis sekaligus bertanggung jawab profesional, mereka akan menciptakan generasi pejuang dan pemimpin masa depan yang berintegritas, inovatif, serta berwawasan global tapi tetap berakar pada nilai lokal dan agama.

Keseluruhan pikiran ini membawa kita pada satu kesimpulan: Transformasi MSDM ke model hibrida berbasis nilai Islam adalah kebutuhan strategis di era generasi Z dan digitalisasi.

Model ini relevan untuk pendidikan, sosial, maupun bisnis syariah, dan memberi landasan keberkahan, profesionalisme, dan loyalitas tinggi.

Pengelolaan SDM yang efektif dan penuh makna di lembaga Islam kontemporer hanya dapat dicapai melalui sinergi harmonis nilai kekeluargaan dan profesionalisme, dalam bingkai nilai-nilai Islam yang menyejukkan dan menyeimbangkan.

Model hibrida inilah yang akan membuka jalan bagi organisasi-organisasi kita untuk tidak hanya bertahan, tapi juga maju dan memberikan manfaat sosial berkelanjutan di era modern yang penuh dinamika.

Kepemimpinan yang mengintegrasikan pada kekeluargaan dan profesionalisme adalah perwujudan tawazun (keseimbangan), menciptakan harmoni dan kolaborasi sejati dalam pengelolaan SDM.

Selesai

Penulis: Kusnan [Magister Manajemen, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Semarang, Ketua Yayasan Sayyid Kundori Sekolah HEPI School Bogor, Direktur PT Salam Inti Perniagaan]

Bagikan

Komentar

Berita Terkait