
Telaah – Perundingan gencatan senjata mandek, masa depan Gaza terombang-ambing (Bagian 1 dari 2)

Warga Palestina menikmati hidangan buka puasa di antara puing-puing rumah yang hancur pada hari pertama Ramadhan di Kota Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 1 Maret 2025. (Xinhua/Mahmoud Zaki)
Masa depan warga Gaza saat ini masih terombang-ambing karena munculnya berbagai usulan mengenai tata kelola pascaperang dan rekonstruksi, tetapi belum satu pun usulan mendapatkan penerimaan luas.
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Usai berakhirnya fase pertama kesepakatan damai Gaza pada Sabtu (1/3), dan di tengah ketidakpastian nasib pembahasan fase kedua, kekhawatiran pun meningkat jika perdamaian yang telah susah payah dicapai dan rapuh itu rusak kembali. Hal ini akan berdampak pada lebih dari 2 juta orang yang tinggal di daerah kantong pantai yang terkepung tersebut.Masa depan warga Gaza saat ini masih terombang-ambing karena munculnya berbagai usulan mengenai tata kelola pascaperang dan rekonstruksi, tetapi belum satu pun usulan mendapatkan penerimaan luas. Meskipun terjadi ketidakstabilan, banyak warga menyatakan tekad mereka untuk menetap di Gaza, kendati mereka berisiko terus mengalami pengungsian, kehancuran, dan ketidakpastian.Fase kedua mandekSumber keamanan Mesir mengatakan kepada Xinhua pada Jumat (28/2) pekan lalu bahwa delegasi Israel di Kairo mengusulkan perpanjangan fase pertama gencatan senjata Gaza selama 42 hari.Namun, rentetan negosiasi yang dilakukan sejauh ini belum membahas tentang fase kedua kesepakatan, yang sejatinya berupaya mengakhiri perang di Gaza dan memastikan penarikan penuh Israel dari Jalur Gaza, imbuh narasumber tersebut.Sebagai respons, Hamas pada Sabtu (1/3) menyampaikan bahwa usulan Israel untuk memperpanjang fase pertama kesepakatan gencatan senjata Gaza tersebut "tidak dapat diterima", seraya menambahkan bahwa para mediator dan negara penjamin diharuskan untuk mewajibkan pihak pendudukan untuk mematuhi kesepakatan tersebut dalam berbagai tahapannya.Juru Bicara (Jubir) Hamas Hazem Qassem mengungkapkan bahwa masih belum ada negosiasi dengan Hamas mengenai tahap kedua kesepakatan tersebut, dan menuduh Israel "menghindar dari komitmen untuk mengakhiri perang dan menarik diri sepenuhnya dari Gaza."Pada Ahad (2/3) pagi waktu setempat, Kantor Perdana Menteri (PM) Israel mengungkapkan dalam sebuah pernyataan bahwa Israel telah menerima usulan Amerika Serikat (AS) untuk gencatan senjata sementara dengan Hamas di Gaza selama Ramadan dan liburan Paskah YahudiBulan suci Ramadhan umat Islam dimulai pada Jumat dan akan berlangsung hingga 30 Maret, sedangkan pekan Paskah umat Yahudi akan diperingati mulai 12 hingga 20 April.Pernyataan itu juga menekankan bahwa Israel mungkin akan kembali bertempur jika meyakini negosiasi tidak efektif, setelah fase pertama kesepakatan gencatan senjata yang melibatkan pembebasan sandera selama 42 hari berakhir pada Sabtu.Wadah pemikir (think tank) Israel Institut untuk Studi Keamanan Nasional negara itu berkomentar bahwa "Israel belum memenuhi tujuan perang yang ditetapkan oleh eselon politiknya, Israel belum sepenuhnya menghancurkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas, serta pembebasan para sandera hingga saat ini hanya bersifat parsial."Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat mengatakan perdana menteri Israel melihat fase pertama gencatan senjata sebagai sesuatu yang menguntungkan karena adanya pembebasan sandera secara bertahap. Meski demikian, Israel memandang fase kedua sebagai jebakan yang akan memaksa negara itu menarik diri sepenuhnya dari Gaza, sehingga membatasi kemampuannya untuk menargetkan Hamas.Para analis mengatakan kepada Xinhua bahwa Netanyahu juga mendapat tekanan dari anggota Kabinet sayap kanan ekstrim, yang hanya mendukung fase pertama dan menuntut jaminan bahwa Gaza tidak akan lagi mengancam Israel, atau mereka akan meninggalkan koalisi. Penentangan mereka telah membuat pemerintah ragu untuk melanjutkan negosiasi.Bersambung ke bagian 2Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Mitra-mitra kemanusiaan PBB evaluasi dampak kerusakan akibat banjir bagi pengungsi Gaza
Indonesia
•
28 Nov 2024

COVID-19 – Somalia dan PBB tingkatkan vaksinasi di tengah kekeringan parah
Indonesia
•
31 Aug 2022

WHO ubah nama ‘monkeypox’ jadi ‘mpox’, hindari stigma
Indonesia
•
29 Nov 2022

Universiade tabur benih pertukaran budaya dan pemahaman yang lebih baik di luar lapangan
Indonesia
•
08 Aug 2023


Berita Terbaru

Di New York, Taiwan tunjukkan kepeloporan dalam kesetaraan gender
Indonesia
•
17 Mar 2026

Ramadan 1447H – Kamar Dagang China di Indonesia beri bantuan kepada buruh rentan, via kerja sama dengan Serikat Buruh Muslim Indonesia
Indonesia
•
13 Mar 2026

Feature – Pengobatan tradisional China solusi kesehatan mental di zaman modern
Indonesia
•
14 Mar 2026

Mengintip aksi pendongeng hibur murid SD di Banten
Indonesia
•
11 Mar 2026
