
Media: Akademisi muda Jepang pindah ke China untuk peluang yang lebih baik

Sebuah robot terlihat menyambut mahasiswa baru di kampus Universitas Fudan di Shanghai, China timur, pada 12 September 2020. (Xinhua/Liu Ying)
Jepang telah menggunakan sistem pendanaan yang menurut para kritikus mendorong para peneliti muda semakin menjauh, sementara lanskap akademik China yang cepat berubah memudahkan para akademisi untuk pergi ke luar negeri.
Tokyo, Jepang (Xinhua) – Akademisi muda Jepang memilih untuk melakukan penelitian di universitas-universitas China demi prospek karier yang lebih menjanjikan, demikian dilaporkan oleh surat kabar Jepang Asahi Shimbun.Surat kabar harian itu mengutip kasus Motoyuki Hattori, seorang akademisi muda penuh harapan yang meninggalkan Jepang tujuh tahun lalu untuk menempuh karier sebagai profesor di Universitas Fudan di Shanghai.Hattori, yang sekarang berusia 40 tahun, merupakan seorang spesialis di bidang struktur dan fungsi transporter membran. Dia mengatakan ketika dirinya lulus dari universitas tujuh tahun lalu, dia ingin segera memiliki laboratoriumnya sendiri, tetapi biasanya proses tersebut memakan waktu setidaknya 10 tahun di Jepang. Maka dia memutuskan untuk pindah ke China.Surat kabar itu melaporkan bahwa Jepang telah menggunakan sistem pendanaan yang menurut para kritikus mendorong para peneliti muda semakin menjauh. Lanskap akademik China yang cepat berubah memudahkan para akademisi seperti Hattori untuk pergi ke luar negeri.Sejumlah ilmuwan China berusia 30-an dan 40-an tahun yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat telah mulai kembali ke tanah air untuk bekerja dan menerbitkan berbagai artikel ilmiah. Selain itu, dengan semakin banyaknya talenta muda, China tidak harus bergantung pada program mahal untuk memikat nama-nama besar, ujar Hattori."Sangat penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan untuk memiliki sejumlah besar akademisi dan memberikan mereka kesempatan yang lebih luas," kata Hattori, menambahkan bahwa dukungan pemerintah China yang meningkat terhadap universitas regional untuk meningkatkan standar akademik di seluruh negeri telah terbukti efektif.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Presiden Korsel nyatakan kondisi darurat nasional demografis
Indonesia
•
21 Jun 2024

Waduk Sungai Kuning akan kembali airi sungai utama Beijing
Indonesia
•
15 Feb 2023

COVID-19 – Belum ada konsensus tentang kesiapan vaksin Sputnik V untuk penggunaan massal
Indonesia
•
18 Aug 2020

Situasi Suriah rapuh saat 2 juta pengungsi pulang
Indonesia
•
23 Jun 2025


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
