Studi sebut musik dapat kurangi risiko demensia hingga 40 persen

Ilustrasi. (Matteo Vistocco on Unsplash)
Mendengarkan atau memainkan alat musik pada usia lanjut berpotensi mengurangi risiko demensia secara signifikan.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Mendengarkan atau memainkan alat musik pada usia lanjut berpotensi mengurangi risiko demensia secara signifikan, demikian menurut sebuah penelitian yang dipimpin oleh peneliti Australia terhadap lebih dari 10.800 warga lanjut usia (lansia).Penelitian itu menemukan bahwa warga berusia 70 tahun ke atas yang selalu mendengarkan musik memiliki risiko 39 persen lebih rendah untuk mengalami demensia dibandingkan mereka yang tidak pernah, jarang, atau hanya sesekali melakukannya, papar pernyataan yang dirilis pada Kamis (30/10) oleh Monash University Australia, yang memimpin studi tersebut.Mereka yang rutin mendengarkan musik juga memiliki insidensi gangguan kognitif 17 persen lebih rendah, serta skor yang lebih tinggi dalam kemampuan kognitif secara keseluruhan dan memori episodik, yang digunakan saat mengingat peristiwa sehari-hari, urai penelitian tersebut.Memainkan alat musik juga berkaitkan dengan 35 persen pengurangan risiko terpapar demensia, ungkap penelitian yang telah dipublikasikan dalam International Journal of Geriatric Psychiatry tersebut.Para partisipan yang secara rutin mendengarkan dan memainkan alat musik memiliki risiko demensia 33 persen lebih rendah dan tingkat gangguan kognitif 22 persen lebih rendah, papar penelitian tersebut.Penelitian itu menggunakan data dari studi ‘ASPirin in Reducing Events in the Elderly’ (ASPREE), sebuah proyek penelitian penting yang menyelidiki efek aspirin dosis rendah terhadap hasil kesehatan pada orang dewasa usia lanjut, serta data dari substudi ‘ASPREE Longitudinal Study of Older Persons.’Emma Jaffa dari Monash University, selaku peneliti utama dalam penelitian tersebut, menyampaikan bahwa temuan menunjukkan "aktivitas musik dapat menjadi strategi yang mudah diakses untuk menjaga kesehatan kognitif pada orang dewasa usia lanjut, kendati hubungan sebab-akibat tidak dapat dipastikan."Populasi yang menua menjadi kekhawatiran kesehatan global mengingat masa hidup yang lebih panjang menyebabkan peningkatan penyakit terkait usia, seperti demensia dan penurunan fungsi kognitif, ujar tim peneliti tersebut."Bukti menunjukkan bahwa penuaan otak tidak hanya ditentukan oleh usia dan faktor genetik, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh pilihan lingkungan dan gaya hidup seseorang," tutur Profesor Joanne Ryan dari Monash University, selaku penulis senior dalam penelitian tersebut.Dengan belum tersedianya obat untuk demensia, intervensi berbasis gaya hidup, seperti mendengarkan dan/atau memainkan alat musik, dapat mendukung kesehatan kognitif serta berpotensi mencegah atau menunda timbulnya penyakit, ujar Ryan.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Komisaris HAM PBB kutuk serangan Israel yang tewaskan wanita dan anak-anak di Rafah
Indonesia
•
24 Apr 2024

China kirim bantuan kemanusiaan ke Gaza lewat Yordania
Indonesia
•
19 Feb 2025

CEO Tehran Times sebut penting untuk dapatkan gambaran nyata tentang Iran dan China via media
Indonesia
•
06 Dec 2023

UN Habitat serukan pembuatan kerangka pendanaan baru untuk pembangunan perkotaan
Indonesia
•
02 Nov 2023
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026
