
Studi ungkap dinamika vegetasi perkotaan global dari 1990 hingga 2021

Foto dari udara yang diabadikan pada 7 Agustus 2024 ini menunjukkan pemandangan Taman Lahan Basah Nasional Danau Minghu di Distrik Zhongshan, Liupanshui, Provinsi Guizhou, China barat daya. (Xinhua/Tao Liang)
Menghijaunya vegetasi perkotaan tidak merata secara geografis, dengan wilayah Global South menyumbang 36,77 persen dan wilayah Global North menyumbang 45,65 persen.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa hampir separuh dari vegetasi perkotaan global sedang mengalami pencokelatan (browning), sementara sekitar 40 persen sedang menghijau (greening).Temuan tersebut didapatkan oleh tim peneliti dari Institut Ilmu Geografi dan Penelitian Sumber Daya Alam (Institute of Geographic Sciences and Natural Resources Research/IGSNRR), yang merupakan bagian dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), setelah melakukan analisis komprehensif terhadap dinamika vegetasi dengan data resolusi tinggi pada skala 30 meter di 11.235 kota di seluruh dunia antara 1990 hingga 2021.Para peneliti menemukan bahwa menghijaunya vegetasi perkotaan tidak merata secara geografis, dengan wilayah Global South menyumbang 36,77 persen dan wilayah Global North menyumbang 45,65 persen.Selain itu, meski ada perluasan ruang hijau yang cukup besar di kota-kota, persentase masyarakat yang benar-benar memperoleh manfaat dari vegetasi yang menghijau ini masih relatif kecil.Para peneliti juga menyoroti hubungan penting antara pembangunan ekonomi dan menghijaunya vegetasi perkotaan. Kota-kota yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita lebih tinggi biasanya mengalami pertumbuhan vegetasi yang lebih substansial.Selain itu, urbanisasi dan pengendapan nitrogen menghadirkan dampak yang kompleks: meski faktor-faktor ini dapat menyebabkan penurunan vegetasi di pinggiran-pinggiran kota, faktor-faktor ini juga, sebaliknya, dapat mendorong perluasan vegetasi di pusat-pusat kota.Studi tersebut menunjukkan bahwa dibandingkan dengan daerah-daerah yang mengalami pencokelatan atau tidak berubah, area-area yang menghijau secara signifikan mengurangi efek pulau bahang (heat island effect), terutama pada siang hari di musim panas.Menurut tim peneliti, hal itu menunjukkan bahwa upaya jangka panjang untuk mendorong upaya menghijaukan vegetasi perkotaan tidak hanya dapat membantu mengatasi perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan hidup perkotaan.Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Angka bunuh diri anak di Jepang catat rekor tertinggi pada 2024
Indonesia
•
31 Oct 2025

Kebun Raya Bogor berperan dalam konservasi kawasan Malesia
Indonesia
•
18 Feb 2020

UN Women: Menghapus kesenjangan digital gender bisa tingkatkan PDB global 1,5 triliun dolar AS
Indonesia
•
17 Sep 2025

Pakar peringatkan kebakaran hutan di Spanyol tunjukkan peningkatan risiko iklim di Eropa
Indonesia
•
23 Aug 2025


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
