
Studi bongkar fakta mengejutkan! Resistansi antibiotik ancam generasi baru

Seorang apoteker mencari sebuah obat di Athena, Yunani, pada 9 Januari 2023. Yunani, serta banyak negara lain di seluruh Eropa dan dunia, menghadapi kekurangan stok obat-obatan dalam beberapa bulan terakhir di tengah pandemik COVID-19 serta lonjakan kasus flu dan infeksi saluran pernapasan lainnya. (Xinhua/Marios Lolos)
Meningkatnya infeksi resisten antibiotik pada bayi baru lahir muncul sebagai salah satu ancaman kesehatan global yang semakin mengkhawatirkan.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Meningkatnya infeksi resisten antibiotik pada bayi baru lahir muncul sebagai salah satu ancaman kesehatan global yang semakin mengkhawatirkan, demikian diperingatkan sebuah studi.Para peneliti menyerukan perlunya perombakan mendesak terhadap pedoman diagnostik dan pengobatan untuk infeksi pada bayi baru lahir, setelah sebuah studi yang dipimpin oleh Universitas Sydney (University of Sydney/USYD) mengungkap bahwa pengobatan garis depan untuk sepsis tidak lagi efektif dalam mengobati sebagian besar infeksi bakteri, menurut pernyataan USYD pada Senin (29/9).Studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Regional Health – Western Pacific ini menganalisis hampir 15.000 sampel darah yang dikumpulkan dari bayi yang sakit pada 2019 dan 2020 di 10 rumah sakit di lima negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia.Sejumlah temuan menunjukkan bahwa sebagian besar infeksi disebabkan oleh bakteri yang kemungkinan besar tidak akan merespons pengobatan yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini, yang dikembangkan menggunakan data dari negara-negara berpenghasilan tinggi, alih-alih data regional yang dilokalisasi."Pedoman harus diperbarui agar mencerminkan profil bakteri lokal dan pola resistensi yang sudah diketahui. Jika tidak, angka kematian akan terus meningkat," ungkap penulis senior studi tersebut Phoebe Williams, associate professor dari Fakultas Kesehatan Masyarakat USYD.Para peneliti juga menyoroti lambatnya pengembangan obat antibiotik baru untuk bayi dan anak-anak, serta mendesak investasi substansial di bidang ini.Meski studi tersebut mengecualikan kasus-kasus di Australia, para peneliti menekankan bahwa kewaspadaan Australia sangat penting mengingat kedekatan hubungannya dengan Asia Tenggara dan Pasifik Barat, tempat resistensi antimikroba meningkat pesat.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Organisasi perempuan Filipina kecam pakta pertahanan baru Filipina dan Jepang
Indonesia
•
09 Jul 2024

Feature – Program WFP hadirkan makanan bergizi bagi siswa-siswa TK di pedesaan China
Indonesia
•
05 Oct 2024

Beijing, Shanghai, atau Wuhan? Memilih kota studi di China
Indonesia
•
20 Jun 2026

Ahli medis: Cacar monyet dapat menyebar dari manusia ke anjing peliharaan
Indonesia
•
17 Aug 2022


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
