Menteri Energi Inggris sebut penutupan Selat Hormuz rugikan ekonomi global

Seorang demonstran mengangkat tangan yang ditulisi slogan 'No War' dalam aksi unjuk rasa di Tel Aviv (wilayah Palestina yang diduduki), pada 14 Maret 2026 untuk memprotes serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dan menuntut dihentikannya semua tindakan perang. (Xinhua/JINI/Tomer Neuberg)

Pendekatan PM Inggris Keir Starmer dalam konflik Iran versus AS dan Israel adalah deeskalasi, dan Starmer mengambil keputusan yang tepat dengan tidak bergabung dalam serangan awal.

 

London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window ) – Menteri Energi Inggris Ed Miliband pada Ahad (15/3) mengatakan bahwa mengakhiri konflik yang sedang berlangsung merupakan "cara terbaik dan paling konklusif" untuk membuka kembali Selat Hormuz, seraya memperingatkan bahwa situasi tersebut merugikan perekonomian global.

"Lonjakan harga minyak dan gas yang terjadi saat ini disebabkan oleh penutupan selat tersebut," kata Miliband kepada media Inggris. Dia menambahkan bahwa Inggris ingin bekerja sama dengan para sekutu untuk mengupayakan pembukaan kembali jalur pelayaran itu.

Krisis yang melibatkan Iran perlu diredakan karena "cara terbaik dan paling konklusif untuk membuka kembali Selat Hormuz adalah dengan mengakhiri konflik ini," ujar Miliband.

"Kami tidak ingin melihat Iran yang berkekuatan nuklir, tetapi kami ingin menemukan cara untuk mengakhiri konflik ini yang, terus terang, tidak menguntungkan siapa pun di dunia," katanya. "Kami melihat kerusakan yang telah terjadi, serta potensi kerugian ekonomi yang bisa ditimbulkan," imbuhnya.

Miliband juga mengatakan bahwa pendekatan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam konflik ini adalah deeskalasi, dan Starmer mengambil keputusan yang tepat dengan tidak bergabung dalam serangan awal.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait