
Ilmuwan ungkap strategi baru untuk resusitasi henti jantung

Ilustrasi. (Robina Weermeijer on Unsplash)
Metode baru untuk resusitasi henti jantung (cardiac arrest) diharapkan dapat meningkatkan tingkat keberhasilan resusitasi kardiopulmoner dan berdampak besar pada pengembangan sistem perawatan darurat untuk kondisi kritis.
Guangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti mengembangkan metode baru untuk resusitasi henti jantung (cardiac arrest), yang diharapkan dapat meningkatkan tingkat keberhasilan resusitasi kardiopulmoner dan berdampak besar pada pengembangan sistem perawatan darurat untuk kondisi kritis.Pasien henti jantung kerap mengalami kerusakan otak yang parah, yang menjadi penyebab utama kematian. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa hanya dalam hitungan detik setelah henti jantung, suplai oksigen otak akan terkuras habis, yang menyebabkan hilangnya kesadaran seketika.Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa otak hanya dapat menoleransi kerusakan iskemik selama lima hingga delapan menit, yang menyebabkan rendahnya tingkat keberhasilan resusitasi pada pasien henti jantung.Sebuah tim peneliti internasional yang dipimpin oleh He Xiaoshun dari rumah sakit afiliasi pertama Universitas Sun Yat-sen di Provinsi Guangdong, China selatan, menerapkan "teknik pengawetan otak ex vivo" yang inovatif agar berhasil "menghidupkan kembali" otak babi yang terisolasi yang telah "mati" selama 50 menit.Secara rinci, penelitian itu menggunakan seekor babi yang sudah mengalami kematian peredaran darah sebagai subjek percobaan. Setelah memisahkan otak babi dari tubuhnya, para peneliti menghubungkan otak tersebut ke sistem eksternal pendukung kehidupan melalui intubasi, sehingga menciptakan sistem yang mendukung resusitasi otak.Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak babi tersebut berhasil "dihidupkan kembali," dengan fungsi otak yang dipulihkan dan vitalitas yang dipertahankan.Sistem ini tidak hanya melibatkan komponen-komponen untuk jantung artifisial dan paru-paru artifisial, tetapi juga menggunakan teknologi perfusi darah normotermik (normothermic blood perfusion) untuk mengawetkan lever babi yang masih hidup, sehingga mengalirkan sirkulasi darah yang segar, teroksigenasi, serta stabil secara metabolis ke otak babi yang terisolasi.Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan bantuan sistem pendukung kehidupan ex vivo, edema pada otak yang terisolasi berkurang secara signifikan. Vitalitas serta mikrostruktur sel saraf pun meningkat secara signifikan, sehingga memungkinkan pemulihan dan pemeliharaan aktivitas listrik di dalam otak.Penelitian ini juga menyoroti peran penting lever dalam patogenesis cedera otak pascahenti jantung.Penelitian tersebut telah dipublikasikan baru-baru ini sebagai artikel sampul di dalam jurnal EMBO Molecular Medicine.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan sebut air berpendar di Tasmania terkait perubahan iklim, bukan limbah budidaya ikan
Indonesia
•
08 Jan 2026

Ilmuwan China kembangkan metode artifisial baru untuk sintesis heksosa dari CO2
Indonesia
•
22 Aug 2023

Teknologi pertanian inovatif China hadirkan kelezatan sayuran baru
Indonesia
•
15 May 2024

China catat peningkatan kualitas air pada H1 2023
Indonesia
•
22 Jul 2023


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
