
Model AI bantu inventarisasi fasilitas PLTB dan PLTS di China

Foto yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 10 September 2024 ini menunjukkan pemandangan ladang angin Santanghu di Hami, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut. (Xinhua/Hu Huhu)
Perluasan cakupan koordinasi geografis meningkatkan secara signifikan efektivitas komplementaritas PLTB dan PLTS.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sekelompok peneliti dari Universitas Peking dan Akademi DAMO, yang berada di bawah naungan Alibaba Group, baru-baru ini menerbitkan data inventaris yang komprehensif dan berpresisi tinggi dari infrastruktur pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) China di dalam jurnal Nature.
Diterbitkan pada pekan ini, penelitian tersebut menawarkan evaluasi berbasis data mengenai bagaimana koordinasi antardaerah dapat meningkatkan integrasi energi terbarukan dalam sistem energi terbarukan China, yang merupakan sistem energi terbarukan terbesar dan tercepat pertumbuhannya di dunia saat ini.
Tim peneliti menggunakan model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menganalisis citra satelit beresolusi tinggi berukuran lebih dari 7,56 terabita. Dengan model AI ini, tim peneliti dapat mengidentifikasi dan memetakan 319.972 fasilitas tenaga surya dan 91.609 turbin angin di 1.915 wilayah di China pada 2022.
Kumpulan data terperinci ini memberikan "gambaran dari atas (bird's eye view) tentang lanskap energi terbarukan nasional," kata Liu Yu, profesor di Fakultas Ilmu Bumi dan Antariksa, Universitas Peking, yang merupakan penulis utama dalam penelitian tersebut.
Menurut temuan utama penelitian ini, perluasan cakupan koordinasi geografis meningkatkan secara signifikan efektivitas komplementaritas PLTB dan PLTS. Kedua fasilitas tersebut saling melengkapi, karena PLTS mencapai puncak produktivitas energi pada siang hari, sedangkan PLTB kerap menghasilkan lebih banyak energi pada malam hari. Karenanya, kedua fasilitas ini dapat meratakan variabilitas yang ada pada sumber-sumber energi terbarukan di daerah tertentu.
Penelitian ini memodelkan empat strategi berbeda untuk mengintegrasikan energi terbarukan tersebut, mulai dari integrasi tingkat provinsi hingga koordinasi penuh tingkat nasional. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi koordinasi antarprovinsi berskala nasional merupakan pendekatan yang paling efektif.
Dalam sistem dengan fleksibilitas pengiriman (dispatchable flexibility) 80 persen, pendekatan ini dapat meningkatkan penetrasi energi terbarukan yang efektif sebesar 99,88 terawatt-jam (TWh), menurut penelitian tersebut.
Jumlah ini setara dengan 9,1 persen dari total energi tenaga surya dan bayu yang dihitung dalam penelitian ini dan dapat memenuhi kebutuhan listrik rata-rata nasional selama kurang lebih 120 jam. Yang terpenting, angka ini mewakili jumlah signifikan energi bersih "baru" yang seharusnya terbuang karena pembatasan produksi, tanpa memerlukan kapasitas pembangkit tambahan.
Dengan memanfaatkan AI untuk menciptakan fondasi data yang kuat, penelitian ini menawarkan jalur yang terukur bagi China untuk mengintegrasikan sumber daya terbarukannya yang melimpah secara lebih efisien serta mempercepat pencapaian target netralitas karbonnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Mikroba usus diduga bantu bentuk otak manusia
Indonesia
•
07 Jan 2026

Jepang pertimbangkan perpanjangan operasi PLTN berusia 60 tahun saat kekurangan bahan bakar
Indonesia
•
29 Nov 2022

Penelitian: Mata jadi jendela menuju proses penuaan
Indonesia
•
20 Jan 2022

Ilmuwan China gunakan CT scan untuk telusuri jejak domestikasi padi
Indonesia
•
03 Nov 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
