
Peneliti kembangkan model penurunan skala untuk estimasi curah hujan harian beresolusi tinggi

Ilustrasi. (Abid Shah on Unsplash)
Model penurunan skala hibrida terbaru dikembangkan untuk memperoleh data presipitasi beresolusi tinggi dan berakurasi tinggi dalam skala harian.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sekelompok peneliti China bekerja sama dengan peneliti global dalam pengusulan sebuah model penurunan skala (downscaling) hibrida untuk memperoleh data presipitasi beresolusi tinggi dan berakurasi tinggi dalam skala harian, demikian menurut sebuah artikel penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal IEEE Transactions on Geoscience and Remote Sensing.Produk presipitasi satelit yang ada saat ini umumnya dibatasi oleh resolusi spasial kasarnya, yang tidak mampu memenuhi permintaan data akurasi ruang dan waktu (spasio-temporal) tinggi dalam pemantauan banjir bandang, pengeluaran peringatan tanah longsor, dan pengelolaan sumber daya air yang berpresisi.Para peneliti tersebut berasal dari berbagai institusi, seperti Institut Bahaya Pegunungan dan Lingkungan (Institute of Mountain Hazards and Environment) dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) di Chengdu, Provinsi Sichuan, China barat daya, dan Universitas Sun Yat-sen di Provinsi Guangdong, China selatan, serta para peneliti dari Spanyol dan Italia. Mereka mengembangkan model tersebut, yang didasarkan pada metode penurunan skala dan penggabungan presipitasi berbasis kelembapan tanah (soil moisture-based precipitation downscaling and merging/SMPD-MERG).Metode ini dapat memberikan gambaran yang sangat rinci tentang variabilitas spasial presipitasi dalam berbagai kondisi musim, ungkap CAS.Secara khusus, metode baru ini berhasil diterapkan pada pengukuran presipitasi global yang dilakukan di bagian tengah Semenanjung Iberia dari 2016 hingga 2018. Metode tersebut meningkatkan resolusi spasialnya dari 10 km menjadi 1 km.Berbeda dari metode-metode penurunan skala empiris sebelumnya, metode yang diusulkan ini tidak hanya mempertimbangkan dinamika fisik dari proses presipitasi, tetapi juga mencapai integrasi yang baik dari keunggulan berbagai sumber data, papar artikel penelitian tersebut. Metode ini menunjukkan potensi yang baik untuk menghasilkan data presipitasi berkualitas tinggi dengan resolusi spasio-temporal yang tinggi, imbuh artikel penelitian.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan Rusia kembangkan galur vaksin baru untuk lawan virus flu burung H5N1
Indonesia
•
22 Jan 2026

Huawei luncurkan sistem operasi HarmonyOS NEXT buatan sendiri
Indonesia
•
24 Oct 2024

COVID-19 – Ahli: Koktail antibodi efektif pada tahap awal
Indonesia
•
03 Nov 2020

Indosat, ITA, dan Universitas Tsinghua China jalin kerja sama bangun lab AI di Indonesia
Indonesia
•
24 Sep 2025


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
