
Kemenag gencarkan program inklusi dan perbanyak kitab suci Braille

Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas. (Kementerian Agama RI)
Mushaf Braille di Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI mengacu pada Mushaf Standar Braille yang ditetapkan pada 1984.
Jakarta (Indonesia Window) – Kementerian Agama RI berkomitmen untuk menggencarkan program-program inklusi dengan menyediakan akses bagi para penyandang disabilitas dalam memahami kitab suci.“Kementerian Agama menyampaikan selamat Hari Braille Sedunia, khususnya bagi kawan disabilitas netra Indonesia. Kementerian Agama berkomitmen untuk terus mendukung dan mengembangkan program-program inklusi,” ujar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, di Jakarta, Jumat, yang dikutip dari situs jejaring kementerian.Hari Braille Sedunia diperingati pada 4 Januari sejak 2019. Tanggal ini dipilih dan ditetapkan sebagai Hari Braille Sedunia karena bertepatan dengan tanggal lahir Louis Braille, penemu huruf Braille.Kementerian Agama, lanjut menteri, selama ini berusaha untuk memberikan akses pengetahuan, terutama dalam memahami kitab suci, bagi kawan-kawan disabilitas. Selain para penyandang disabilitas netra, perluasan akses juga diberikan kepada para penyandang tuna rungu.“Untuk memudahkan akses disabilitas netra, Kemenag telah menyiapkan kitab suci dalam bahasa Braille. Sementara untuk memudahkan akses kawan tuli, disiapkan juga kitab suci dalam bahasa isyarat,” ujar Gus Men, sapaan akrab Menteri Yaqut.“Kami berharap kehadiran kitab suci dengan bahasa Braille bisa menjadi jembatan yang menghubungkan disabilitas netra dalam memahami kitab suci mereka. Demikian juga kitab suci bahasa isyarat diharapkan bermanfaat bagi kawan tuli,” tuturnya.Kementerian Agama telah menerbitkan Mushaf Al-Qur’an Braille cetakan 30 juz dan Mushaf Al-Qur’an Isyarat dalam bentuk digital dan cetakan 15 juz. Selain itu, telah disusun juga Dhammapada Braille bagi Umat Buddha dalam bentuk cetak dan Ayat Alkitab Bahasa Isyarat bagi Umat Kristen dalam bentuk video.“Kita akan terus memperbanyak ini agar semakin memudahkan akses bagi para sahabat disabilitas dalam memahami kitab sucinya, termasuk kitab suci agama-agama lainnya,” kata Gus Men.“Tidak hanya kitab suci, Kemenag ke depan juga akan perluas akses sahabat disabilitas terhadap ilmu pengetahun melalui penyediaan literasi keilmuan dalam huruf Braille, baik umum maupun agama,” ujarnya.
Selama periode 1974-1983, Kementerian Agama (saat itu Departemen Agama) sudah mengembangkan penggunaan huruf Braille bagi tunanetra. Salah satu upaya tersebut adalah melakukan standardisasi Al-Qur’an Braille dalam forum Musyawarah Kerja Ulama Ahli Al-Qur’an. Forum tersebut berhasil menetapkan Al-Qur’an Braille sebagai salah satu Mushaf Standar Indonesia (MSI) melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 25 tahun 1984. (Kementerian Agama RI)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Presidensi G20 RI prioritaskan kesehatan global, ekonomi digital dan transisi energi
Indonesia
•
17 Feb 2022

Presiden Prabowo gelar pertemuan dengan Presiden Macron di KTT G20
Indonesia
•
20 Nov 2024

Kemendag resmikan Nusantara Fashion House di Malaysia
Indonesia
•
04 Feb 2023

Indonesia berpotensi kembangkan pembangkit listrik tenaga thorium
Indonesia
•
30 Oct 2019


Berita Terbaru

Patrialis Akbar ingatkan hakim: Salah memutus perkara, pertanggungjawabannya hingga akhirat
Indonesia
•
12 Aug 2026

Program Magang Nasional 2026 dibuka, pemerintah siapkan 150 ribu kesempatan bagi lulusan perguruan tinggi
Indonesia
•
11 Aug 2026

Analisis – Ke mana mengalirnya uang jemaah haji Indonesia? Ada potensi ekonomi yang bisa kembali ke Tanah Air (2 dari 3 tulisan)
Indonesia
•
08 Aug 2026

Analisis – Ke mana mengalirnya uang jemaah haji Indonesia? Ada potensi ekonomi yang bisa kembali ke Tanah Air (selesai)
Indonesia
•
08 Aug 2026
