
Aktinomiset jadi ‘senjata baru’pertanian berkelanjutan

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB (Institut Pertanian Bogor) University, Prof. Dr. Abdjad Asih Nawangsih, dalam konferensi pers pra-orasi ilmiahnya bertajuk ‘Peran dan Pemanfaatandukung Pertanian Berkelanjutan’, yang digelar secara daring, Kamis (18/9/2025). (Indonesia Window)
Nilai pasar biopestisida mencapai 8,73 miliar dolar AS dan diperkirakan melonjak menjadi 28,61 miliar dolar AS pada 2032, dengan pertumbuhan rata-rata 16 persen per tahun.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Kebutuhan pangan dunia diprediksi melonjak drastis seiring dengan pertumbuhan populasi global yang akan mencapai 10 miliar jiwa pada 2050.Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan, produksi pertanian harus meningkat 60 persen agar kebutuhan pangan manusia terpenuhi. Namun, tantangan besar mengintai, yakni penyakit tanaman yang menggerus hasil panen hingga 40 persen setiap tahun, dengan kerugian ekonomi global mencapai lebih dari 220 miliar dolar AS.*1 dolar AS = 16.475 rupiahKondisi ini menjadi sorotan utama Guru Besar Fakultas Pertanian IPB (Institut Pertanian Bogor) University, Prof. Dr. Abdjad Asih Nawangsih, dalam konferensi pers pra-orasi ilmiahnya bertajuk 'Peran dan Pemanfaatan Bakteri Aktinomiset untuk Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan', Kamis (18/9).Dalam pemaparannya, Prof. Abdjad menunjukkan sejarah yang mencatat bagaimana penyakit tanaman dapat memicu bencana kemanusiaan.Tragedi kelaparan besar di Irlandia (1845–1846) akibat serangan Phytophthora infestans pada kentang menewaskan ratusan ribu orang dan memaksa jutaan lainnya bermigrasi. Hal serupa terjadi di India ketika wabah bercak coklat menyerang padi, merenggut lebih dari dua juta nyawa, urainya.“Kasus-kasus tersebut menjadi pelajaran bahwa kesehatan tanaman tidak sekadar isu pertanian, melainkan juga menyangkut kelangsungan hidup manusia,” ujar Prof. Abdjad.Revolusi hijau dan pertanian ramah lingkunganRevolusi Hijau yang berlangsung sejak 1960-an berhasil mendongkrak produksi pangan melalui benih unggul, pupuk, dan pestisida kimia. Namun, praktik intensifikasi yang seragam justru memunculkan masalah baru berupa resistensi hama, degradasi lingkungan, hingga risiko kesehatan manusia akibat residu pestisida.“Sejak saat itu, konsep Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu mulai diperkenalkan, yang menggabungkan penggunaan varietas tahan, kontrol alamiah, dan pestisida secara bijak. Salah satu instrumen penting IPM adalah pengendalian hayati,” jelasnya.Aktinomiset: Mikroba multifungsi penyelamat tanamanMenurut Prof. Abdjad, pengendalian hayati mengandalkan organisme hidup sebagai agen pengendali penyakit tanaman.Selama ini, bakteri seperti Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens sudah banyak dimanfaatkan. Namun, Prof. Abdjad menyoroti potensi besar kelompok bakteri Aktinomiset, terutama genus Streptomyces.Bakteri ini memiliki tiga mekanisme utama dalam melindungi tanaman, yakni persaingan ruang dan nutrisi dengan patogen, produksi senyawa antimikroba (antibiosis), dan parasitisme terhadap patogen.Selain itu, Aktinomiset juga menghasilkan enzim, fitohormon, dan siderofor yang tidak hanya menekan patogen tetapi juga meningkatkan ketahanan tanaman.“Isolat Aktinomiset yang diteliti bahkan mampu menghambat pertumbuhan patogen hingga 76 persen di laboratorium,” ungkap Prof. Abdjad.BiopestisidaKesadaran global terhadap dampak negatif pestisida kimia mendorong meningkatnya pasar biopestisida.Pada 2024, nilai pasar biopestisida mencapai 8,73 miliar dolar AS dan diperkirakan melonjak menjadi 28,61 miliar dolar AS pada 2032, dengan pertumbuhan rata-rata 16 persen per tahun.“Dengan kapasitasnya menghasilkan senyawa bioaktif dan fitohormon, Aktinomiset bukan sekadar biopestisida, tapi juga agen peningkat pertumbuhan tanaman. Inilah solusi dwiguna yang mendukung pertanian berkelanjutan,” tegasnya.Prof. Abdjad menekankan, eksplorasi Aktinomiset perlu terus dilakukan, baik dari tanah, kompos, filosfer, hingga jaringan tanaman.Dia optimistis, riset dan penerapan biopestisida berbasis mikroba ini dapat menjadi alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.“Ke depan, kita harus membangun sistem pertanian yang produktif sekaligus sehat bagi manusia dan lingkungan. Aktinomiset memberi kita peluang emas untuk mencapainya,” tutupnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pusat sertifikasi PV 2.000 volt pertama di dunia diresmikan di Hainan, China
Indonesia
•
26 Sep 2025

Ekspor Indonesia meningkat 29,32 persen pada Juli 2021 dibanding tahun lalu
Indonesia
•
18 Aug 2021

Jetour umumkan harga kendaraan energi barunya di Indonesia, dibanderol di kisaran 400 juta rupiah
Indonesia
•
05 Oct 2024

Raksasa teknologi China Huawei perkirakan pendapatan 2022 capai 636,9 miliar yuan
Indonesia
•
31 Dec 2022


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
