
Panda raksasa tertua di Jepang mati pada usia 28 tahun

Foto ini menunjukkan sepasang panda raksasa yang dipinjam dari China tiba di Kebun Binatang Oji Kota Kobe di Jepang pada 16 Juli 2000. (Xinhua/Kyodo)
Panda raksasa tertua yang hidup di Jepang, Tan Tan, mati pada usia 28 tahun di sebuah kebun binatang di Kota Kobe, Jepang barat, setelah menghabiskan 24 tahun di sana sebagai simbol pemulihan dari Gempa Bumi Besar Hanshin yang mengguncang wilayah tersebut pada 1995.
Tokyo, Jepang (Xinhua) – Panda raksasa tertua yang hidup di Jepang, Tan Tan, mati pada usia 28 tahun di sebuah kebun binatang di Kota Kobe, Jepang barat, setelah menghabiskan 24 tahun di sana sebagai simbol pemulihan dari Gempa Bumi Besar Hanshin yang mengguncang wilayah tersebut pada 1995, demikian disampaikan pihak kebun binatang pada Senin (1/4).Panda raksasa betina itu, yang usianya setara dengan usia 80-an tahun pada manusia, sedang menjalani perawatan setelah diketahui mengidap penyakit jantung pada Maret 2021. Tan Tan diyakini mati karena kolaps akibat penyakit tersebut, menurut Kebun Binatang Oji Kobe.Seorang penjaga kebun binatang menemukan Tan Tan dalam keadaan henti jantung paru pada Ahad (31/3) sekitar pukul 22.00 waktu setempat, dan kematiannya dikonfirmasi pada pukul 23.56 waktu setempat setelah dokter hewan melakukan resusitasi.Tan Tan datang ke kebun binatang itu dari China pada tahun 2000 dengan kontrak sewa selama 10 tahun, tetapi masa tinggalnya diperpanjang setelah pihak China setuju untuk memperpanjang kontrak selama lima tahun sebanyak dua kali.Panda tersebut awalnya dijadwalkan untuk dikirim pulang ke China pada Juli 2020, tetapi perjalanannya ditangguhkan akibat pandemik virus corona.Setelah pandemik, kepulangannya kembali ditunda mengingat perlunya perawatan medis menyusul diagnosis penyakit jantung terkait usia pada 2021.Pihak kebun binatang telah memutuskan untuk tidak menampilkan panda raksasa tersebut kepada masyarakat umum sejak musim semi 2022 karena kondisi kesehatannya. Sejak musim gugur tahun lalu, Tan Tan menjadi kurang aktif dan tidur lebih lama.Dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada Senin sore, Yujiro Kako (55), direktur kebun binatang tersebut, mengatakan panda raksasa itu telah memberi keberanian kepada penduduk setempat dan anak-anak selama hampir 24 tahun, terutama setelah gempa bumi."Kami dengan tulus ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah menunjukkan minat dan cinta terhadap panda raksasa Tan Tan selama bertahun-tahun," imbuh Kako.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Korban tewas akibat gempa di Gansu dan Qinghai, China, naik jadi 148 orang
Indonesia
•
23 Dec 2023

Feature – Tiga sandera Israel dipulangkan saat gencatan senjata hadirkan ketenangan yang rapuh di Gaza
Indonesia
•
21 Jan 2025

Operator kereta AS "sangat menyesal" atas dampak tergelincirnya kereta di Ohio
Indonesia
•
12 Mar 2023

Laporan sebut senjata api sebab utama cedera di kalangan anak-anak dan remaja AS
Indonesia
•
15 Dec 2023


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
