
UNICEF: Polusi udara jadi salah satu faktor risiko kesehatan utama bagi orang dewasa dan anak-anak

Seorang pejalan kaki melintas di dekat Gerbang India di tengah kabut asap tebal di New Delhi, India, pada 3 November 2022. (Xinhua/Javed Dar)
Paparan polusi udara pada dikaitkan dengan lebih dari 700.000 kematian anak berusia di bawah 5 tahun pada 2021, menjadikannya faktor risiko penyebab kematian terbesar kedua secara global untuk kelompok usia ini.
PBB (Xinhua) – Polusi udara menjadi risiko penyebab kematian terbesar kedua secara global bagi orang dewasa dan anak-anak, menurut laporan State of Global Air (SoGA) yang dirilis pada Rabu (19/6).Studi ini, yang untuk pertama kalinya dilakukan dalam kerja sama dengan Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) dan dirilis oleh Health Effects Institute (HEI) dan UNICEF, menemukan bahwa polusi udara menyumbangkan 8,1 juta kematian di seluruh dunia pada 2021.Menurut studi ini, tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko global utama yang menyebabkan kematian orang dewasa, sementara malnutrisi merupakan risiko utama untuk kategori anak-anak."Selain kematian yang disebabkan oleh kedua faktor tersebut, ada jutaan lebih orang yang hidup dengan penyakit kronis yang melemahkan, memberikan beban yang luar biasa bagi sistem perawatan kesehatan, ekonomi, dan masyarakat," kata studi tersebut. "Laporan ini menemukan bahwa anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun sangat rentan, dengan dampak kesehatan meliputi kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, asma, dan penyakit paru-paru."Studi ini menyebutkan bahwa pada 2021, paparan polusi udara dikaitkan dengan lebih dari 700.000 kematian anak berusia di bawah 5 tahun, menjadikannya faktor risiko penyebab kematian terbesar kedua secara global untuk kelompok usia ini.Dari seluruh kasus kematian anak tersebut, sekitar 500.000 di antaranya, yang sebagian besar dilaporkan di Afrika dan Asia, dikaitkan dengan polusi udara rumah tangga yang berasal dari kegiatan memasak di dalam rumah yang menggunakan bahan bakar berpolusi.Laporan baru dari SoGA menganalisis data yang baru-baru ini dirilis dalam studi Beban Penyakit Global (Global Burden of Disease) 2021, yang menunjukkan dampak kesehatan yang parah dari polutan, seperti partikel halus di luar ruangan, polusi udara rumah tangga, ozon, dan nitrogen dioksida, terhadap kesehatan manusia di seluruh dunia.
Seorang pejalan kaki yang mengenakan masker terlihat melintas di depan gedung Capitol yang diselimuti kabut asap di Washington DC, Amerika Serikat, pada 29 Juni 2023. (Xinhua/Aaron Schwartz)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Taiwan tetapkan level asam lemak glisidil dalam produk makanan pada 2024
Indonesia
•
05 Feb 2022

Madinah raih predikat kota tersehat sedunia dari WHO
Indonesia
•
24 Jan 2021

Bus sekolah hadirkan perjalanan yang aman bagi pelajar di daerah terpencil China
Indonesia
•
10 Oct 2023

Dukung upaya internasional, Rwanda turut kirim bantuan kemanusiaan ke Gaza
Indonesia
•
11 Nov 2024


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
