
PBB revisi turun proyeksi pertumbuhan PDB Global 2026 jadi 2,5 persen akibat krisis Timur Tengah

Para pengunjuk rasa memegang plakat saat berpartisipasi dalam pawai Hari Buruh (May Day) di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 1 Mei 2026. (Xinhua/Qiu Chen)
Dampak krisis Timur Tengah sangat tidak merata, dengan dampak paling parah terkonsentrasi di Asia Barat, di mana pertumbuhan diproyeksikan merosot dari 3,6 persen pada 2025 menjadi 1,4 persen pada 2026.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Ekonomi global sedang berada di bawah tekanan akibat krisis di Timur Tengah, yang memperlambat pertumbuhan, memicu kembali tekanan inflasi, dan meningkatkan ketidakpastian di seluruh pasar keuangan, demikian menurut Laporan Perkembangan Pertengahan Tahun 2026 tentang Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia (World Economic Situation and Prospects 2026 Mid-year Update), yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (19/5).
Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global kini diproyeksikan sebesar 2,5 persen untuk 2026, turun 0,2 poin persentase dibandingkan proyeksi Januari, sementara pemulihan moderat diproyeksikan di angka 2,8 persen pada 2027, ungkap laporan tersebut.
Guncangan yang ditimbulkan oleh krisis Timur Tengah terutama dirasakan di sektor energi, melalui keterbatasan pasokan, lonjakan harga, serta meningkatnya biaya pengangkutan dan asuransi, dengan dampaknya menjalar ke rantai pasokan dan meningkatkan biaya produksi secara global. Meski lonjakan harga memberikan keuntungan tak terduga yang substansial bagi perusahaan-perusahaan energi, kondisi itu memperparah tekanan biaya bagi rumah tangga dan pelaku usaha di seluruh dunia.
Salah satu yang mendapat perhatian khusus adalah harga pangan. Pasokan pupuk terganggu sehingga mendorong kenaikan biaya, yang kemudian berpotensi menurunkan hasil panen dan menaikkan harga pangan.
Konflik Timur Tengah telah menghentikan tren disinflasi global yang berlangsung sejak 2023, dengan inflasi diperkirakan naik dari 2,6 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen pada 2026 di perekonomian-perekonomian maju, serta dari 4,2 persen menjadi 5,2 persen di perekonomian-perekonomian berkembang, demikian menurut laporan tersebut.
Pasar tenaga kerja yang solid, permintaan konsumen yang tetap tangguh, serta perdagangan dan investasi yang didorong kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendukung aktivitas global, tetapi diperkirakan tidak akan sepenuhnya mengimbangi berbagai hambatan yang meluas, dan prospek paling menantang dihadapi oleh perekonomian-perekonomian berkembang pengimpor bahan bakar dan pangan.
Dampak krisis Timur Tengah sangat tidak merata, dengan dampak paling parah terkonsentrasi di Asia Barat, di mana pertumbuhan diproyeksikan merosot dari 3,6 persen pada 2025 menjadi 1,4 persen pada 2026, yang dipicu tidak hanya oleh guncangan energi, tetapi juga oleh kerusakan langsung pada infrastruktur serta gangguan serius pada produksi minyak, perdagangan, dan pariwisata, tunjuk laporan tersebut.
Di kawasan lain, dampaknya sangat bervariasi, yang terutama ditentukan oleh tingkat keterpaparan dan kapasitas respons.
"Krisis di Timur Tengah telah memperparah tekanan di perekonomian-perekonomian berkembang," kata Under-Secretary-General PBB Li Junhua, yang memimpin Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UN Department of Economic and Social Affairs/UN DESA). "Meningkatnya biaya pinjaman dan tekanan baru terhadap arus modal berisiko memperdalam kerentanan utang serta membatasi sumber daya yang tersedia untuk pembangunan berkelanjutan pada momen yang krusial."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China terima pesawat Airbus A350 tanpa corak pertama pada 2025 untuk tahap penyelesaian dan pengiriman
Indonesia
•
14 Feb 2025

PM China tekankan inovasi dalam regulasi makro dan stabilkan ekonomi
Indonesia
•
25 Feb 2023

Inflasi utama AS melambat pada Mei di tengah turunnya harga energi
Indonesia
•
15 Jun 2023

Presiden China dan Pantai Gading gelar pembicaraan via telepon
Indonesia
•
21 Dec 2022


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
