
PDB Korea Selatan tumbuh 1,4 persen pada 2023

Foto yang diabadikan pada 24 November 2022 ini menunjukkan gedung Bank of Korea (BOK) di Seoul, Korea Selatan. (Xinhua/Wang Yiliang)
PDB Korea Selatan mencatatkan pertumbuhan terendah dalam tiga tahun pada 2023 karena lesunya konsumsi, yang disebabkan oleh tingginya suku bunga dan inflasi.
Seoul, Korea Selatan (Xinhua) – Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Selatan (Korsel) mencatatkan pertumbuhan terendah dalam tiga tahun pada 2023 karena lesunya konsumsi, yang disebabkan oleh tingginya suku bunga dan inflasi, demikian menurut data bank sentral negara tersebut pada Kamis (25/1).PDB riil yang disesuaikan secara musiman, disesuaikan dengan inflasi, tumbuh 1,4 persen pada 2023 dibandingkan tahun sebelumnya, ungkap bank sentral Korsel, Bank of Korea (BOK).Pertumbuhan tersebut merupakan yang terendah sejak 2020 ketika PDB riil turun 0,7 persen di tengah pandemik COVID-19. Kecuali 2020, ini menandai pertumbuhan terendah sejak 2009 ketika krisis keuangan global mengguncang perekonomian Asia itu.Ekspor, yang menyumbang sekitar separuh dari perekonomian yang didorong oleh ekspor tersebut, naik 2,8 persen pada 2023 setelah naik 3,4 persen pada tahun sebelumnya karena tertundanya pemulihan di sektor semikonduktor.Impor naik 3,0 persen tahun lalu, turun dari kenaikan 3,5 persen pada tahun sebelumnya.Konsumsi swasta, yang merupakan salah satu mesin pertumbuhan perekonomian Korsel, naik 1,8 persen pada 2023 setelah meningkat 4,1 persen pada 2022.Melemahnya konsumsi dipicu oleh masih tingginya inflasi dan suku bunga.Harga konsumen naik 3,6 persen pada 2023 setelah melonjak 5,1 persen pada tahun sebelumnya.BOK mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,50 persen sejak Januari tahun lalu, setelah menaikkannya sebesar 3,0 poin persentase selama satu setengah tahun terakhir.Belanja fiskal meningkat 1,3 persen tahun lalu, turun tajam dari kenaikan sebesar 4,0 persen pada tahun sebelumnya.Investasi di sektor konstruksi naik 1,4 persen, sementara investasi fasilitas naik 0,5 persen.Berdasarkan industri, produksi yang disesuaikan secara musiman di sektor manufaktur naik 1,0 persen tahun lalu, tetapi output listrik, gas alam, dan air keran turun 4,5 persen.Produksi di industri konstruksi dan jasa masing-masing meningkat 2,8 persen dan 2,0 persen.Pendapatan Domestik Bruto (Gross Domestic Income/GDI) riil mengalami rebound sebesar 1,4 persen pada 2023 setelah turun 1,0 persen pada tahun sebelumnya.Pada kuartal Oktober-Desember 2023, PDB riil tumbuh 0,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.PDB riil naik 0,3 persen pada kuartal pertama, 0,6 persen pada kuartal kedua, dan 0,6 persen pada kuartal ketiga tahun lalu.Konsumsi swasta tumbuh 0,2 persen pada kuartal keempat secara kuartalan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 0,3 persen pada kuartal sebelumnya.Belanja fiskal naik 0,4 persen, namun investasi konstruksi turun 4,2 persen pada kuartal tersebut.Pengiriman keluar (outbound) meningkat 2,6 persen pada kuartal keempat, dan impor naik 1,0 persen.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Harga minyak ‘rebound’ di Asia, dipicu gangguan ekspor minyak Rusia
Indonesia
•
04 Mar 2022

ILO: Pertumbuhan lapangan kerja global turun pada 2023 karena krisis ekonomi
Indonesia
•
18 Jan 2023

Penjualan mobil merek China di Indonesia tembus 113.000 unit pada 2025
Indonesia
•
14 Jan 2026

Kemenkeu China: China-AS sepakat pertahankan pertukaran tingkat tinggi bidang ekonomi
Indonesia
•
11 Jul 2023


Berita Terbaru

China targetkan 100.000 kendaraan berbasis sel bahan bakar per 2030
Indonesia
•
17 Mar 2026

Negara-Negara anggota Badan Energi Internasional di Kawasan Asia-Oseania akan "segera" lepas cadangan minyak darurat
Indonesia
•
17 Mar 2026

Jepang mulai lepas cadangan minyak di tengah konflik Timur Tengah
Indonesia
•
17 Mar 2026

Menteri Energi Inggris sebut penutupan Selat Hormuz rugikan ekonomi global
Indonesia
•
17 Mar 2026
