
OCHA berencana galang dana 33 miliar dolar AS untuk bantu 135 juta orang pada 2026

Pengungsi Sudan menunggu keberangkatan di dalam truk relokasi yang berangkat dari Kota Tine di Chad timur menuju Iridimi, pada 26 Juni 2025. (Xinhua/Wang Guansen)
Pemangkasan dan krisis pendanaan kemanusiaan secara brutal tahun ini mengganggu dan bahkan memutus rantai bantuan kemanusiaan.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) pada Senin (8/12) mengatakan tujuan utamanya pada 2026 adalah menggalang total 33 miliar dolar AS untuk membantu 135 juta orang melalui 23 operasi negara dan enam rencana bagi para pengungsi serta migran.*1 dolar AS = 16.688 rupiahOCHA menyebutkan prioritas utamanya untuk tahun depan adalah menyelamatkan 87 juta nyawa dengan pendanaan sebesar 23 miliar dolar AS.PBB dan para mitranya pada Senin meluncurkan seruan kemanusiaan global 2026 untuk menyelamatkan jutaan nyawa di lokasi-lokasi yang terdampak paling parah dalam perang, bencana iklim, gempa bumi, wabah, dan di mana pun terjadi kegagalan panen, ungkap OCHA."Seruan ini menegaskan bahwa kita perlu berfokus pada energi kolektif kita terlebih dahulu: nyawa demi nyawa," kata Under-Secretary-General PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat Tom Fletcher.Fletcher menyebutkan laporan Global Humanitarian Overview 2026 didasarkan pada reformasi, bukti, dan efisiensi, seraya menyampaikan PBB sedang mengalihkan wewenang ke organisasi-organisasi lokal dan mengalokasikan lebih banyak dana langsung ke tangan orang-orang yang membutuhkannya.Global Humanitarian Overview, yang dipublikasikan pada Senin, merupakan penilaian tahunan tentang kebutuhan kemanusiaan global dan cara meresponsnya, serta memberikan analisis mengenai faktor-faktor yang mendasari kebutuhan dan gambaran tentang sumber daya yang diperlukan untuk mendukung orang-orang yang menjadi target bantuan."Seperti yang Anda ketahui, pemangkasan dan krisis pendanaan yang brutal tahun ini mengganggu dan bahkan memutus rantai bantuan kemanusiaan," ujar Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, dalam sebuah konferensi pers harian.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Interaksi unsur tradisional dan modern perkaya kehidupan etnis minoritas di China
Indonesia
•
23 Feb 2023

JAMA: Kematian ibu hamil di AS naik lebih dari dua kali lipat dalam dua dekade
Indonesia
•
05 Jul 2023

Jumlah kasus baru HIV/AIDS di Beijing 1.462 selama 10 bulan pertama 2022
Indonesia
•
02 Dec 2022

10 orang tewas dalam insiden penembakan massal di California Selatan, AS
Indonesia
•
23 Jan 2023


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
