
Pemerintah Indonesia bagikan 500 ribu ‘rice cooker’ gratis untuk dongkrak konsumsi listrik

Foto yang diabadikan pada 21 Juli 2023 ini menunjukkan para petani sedang memanen padi di Kabupaten Bogor. (Xinhua)
Pembagian rice cooker gratis dinilai hampir tidak memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon karena kapasitasnya yang kecil dan pasokan listrik yang dipakai memasak itu pun masih mengandalkan pembangkit batu bara.
Jakarta (Xinhua) – Pemerintah Indonesia akan membagikan alat memasak berbasis listrik (AML) atau dikenal juga rice cooker secara gratis kepada 500.000 keluarga yang tergolong kelompok menengah ke bawah pada tahun ini. Salah satu tujuannya yakni untuk meningkatkan konsumsi listrik masyarakat di saat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengalami kelebihan pasokan listrik atau oversupply.Aturan untuk program ini sudah berlaku sejak 2 Oktober tahun ini. Sasaran penerima program ini yakni pelanggan listrik yang tergolong menengah ke bawah yang menggunakan daya 450-1.300 volt ampere (VA)."Tujuannya untuk menjamin akses energi bersih yang terjangkau, andal dan berkelanjutan," kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman P. Hutajulu dalam keterangan resminya.Pemerintah memperkirakan konsumsi listrik masyarakat dapat meningkat hingga 140 gigawatt-jam (GWh) atau setara kapasitas pembangkitan listrik 20 megawatt (MW). Dengan demikian, penjualan listrik oleh PLN juga akan naik di tengah persoalan oversupply yang terjadi selama bertahun-tahun.Program ini juga bermanfaat bagi pemerintah melalui penghematan anggaran subsidi LPG tabung 3 Kg, terlebih sebagian besar gas itu masih diimpor. Kementerian ESDM memperkirakan potensi penghematan konsumsi LPG dapat mencapai 29 juta kilo atau setara 9,7 juta tabung LPG 3 Kg.Sementara bagi masyarakat, Jisman mengklaim pengeluaran memasak rumah tangga bisa turun dengan beralih ke rice cooker, namun dia tidak merinci secara detail terkait hal itu.Rencana ini sebetulnya sudah muncul sejak tahun lalu dan sampai aturannya terbit awal bulan ini masih banyak menuai kritikan. Direktur lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai rice cooker gratis bukan program yang tepat mengatasi kelebihan pasokan listrik PLN. Solusi paling ideal menurutnya adalah menutup pembangkit listrik, khususnya yang menggunakan batu bara agar sejalan dengan program transisi energi.Kebijakan ini pun dinilai tidak menguntungkan masyarakat miskin. Meski rice cooker sudah diberikan gratis, rumah tangga penerima harus menyiapkan dana tambahan jika memerlukan servis ataupun membeli perkakas pendukung, sementara alat masak lama tidak akan terpakai lagi.Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengatakan pembagian rice cooker gratis ini hampir tidak memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon karena kapasitasnya yang kecil dan pasokan listrik yang dipakai memasak itu pun masih mengandalkan pembangkit batu bara.Fahmy pun tidak begitu yakin program ini bisa mengurangi konsumsi LPG 3 Kg karena rice cooker fungsinya terbatas, sementara masyarakat masih memerlukan kompor gas untuk memasak lauk pauk dan lainnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Presiden disambut Perdana Menteri James Marape di Port Moresby
Indonesia
•
05 Jul 2023

Taiwan buka pusat informasi wisata di Jakarta, perluas pasar di Indonesia
Indonesia
•
10 Mar 2024

Dubes Ubaedillah: Negara hadir, lindungi WNI bermasalah di Brunei
Indonesia
•
23 Nov 2023

Presiden Jokowi lakukan kunjungan kerja ke empat negara di Afrika
Indonesia
•
20 Aug 2023


Berita Terbaru

Indonesia masuk zona merah kabut asap 2026, Agustus-September jadi periode paling berbahaya
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Herdman dan peta jalan baru timnas Indonesia: Mimpi ke Piala Dunia 2030 dimulai
Indonesia
•
21 Jun 2026

Feature – Mengapa orang Indonesia tetap demam Piala Dunia meski timnas tak bermain? Ini jawaban psikolog
Indonesia
•
21 Jun 2026

Jamu bakal punya pusat pengobatan modern, Indonesia gandeng China untuk mewujudkannya
Indonesia
•
20 Jun 2026
