Taliban tak izinkan perempuan ikut ujian masuk universitas

Anak-anak Afghanistan belajar di sebuah kelas yang diselenggarakan oleh UNICEF di Distrik Dand, Provinsi Kandahar, Afghanistan, pada 9 November 2022. Di Kandahar, anak-anak dan orang dewasa mendapat pendidikan literasi di kelas-kelas lokal dengan bantuan UNICEF dan sejumlah organisasi mitra lainnya. (Xinhua/Sanaullah Seiam)
Pembatasan pendidikan tinggi bagi perempuan oleh pemerintahan Taliban telah menuai kecaman internasional, dengan para diplomat Barat memberi isyarat bahwa Taliban harus mengubah arah kebijakannya terhadap perempuan untuk memiliki kesempatan pengakuan internasional formal dan pelonggaran isolasi ekonominya.
Jakarta (Indonesia Window) – Kementerian Pendidikan Tinggi di bawah pemerintahan Taliban baru-baru ini telah menyerukan universitas-universitas swasta di Afghanistan untuk tidak mengizinkan siswa perempuan mengikuti ujian masuk universitas bulan depan, menggarisbawahi kebijakannya untuk membatasi perempuan dari pendidikan tinggi.Sebuah surat dari kementerian ditujukan kepada lembaga-lembaga di provinsi utara Afghanistan, termasuk Kabul, tempat ujian akan berlangsung mulai akhir Februari. Surat itu mengatakan lembaga-lembaga yang tidak mematuhi aturan ini akan menghadapi tindakan hukum.Kementerian Pendidikan Tinggi pada bulan Desember mengatakan kepada pihak universitas untuk tidak mengizinkan mahasiswi “sampai pemberitahuan lebih lanjut”. Beberapa hari kemudian, pemerintah menghentikan sebagian besar pekerja LSM (lembaga swadaya masyarakat) perempuan untuk bekerja. Sebagian besar sekolah menengah khusus perempuan juga telah ditutup oleh pihak berwenang.Pembatasan pendidikan tinggi perempuan, termasuk pembatasan bagi kaum wanita untuk bekerja di sektor publik, telah menuai kecaman internasional. Diplomat Barat telah memberi isyarat bahwa Taliban harus mengubah arah kebijakannya terhadap perempuan untuk memiliki kesempatan pengakuan internasional formal dan pelonggaran isolasi ekonominya.Negara di Asia Tengah ini berada di tengah krisis ekonomi, sebagian karena sanksi yang mempengaruhi sektor perbankan dan pemotongan dana pembangunan.Laporan Bank Dunia pekan ini juga menyatakan bahwa pemerintahan Taliban, yang mengatakan lebih fokus pada swasembada ekonomi, telah mempertahankan pengumpulan pendapatan yang kuat tahun lalu dan ekspor meningkat.Sumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Lebih dari 9.000 warga Palestina tewas sejak awal konflik Hamas-Israel di Gaza
Indonesia
•
03 Nov 2023

Jerman vonis mantan penjaga kamp Nazi berusia 101 tahun 5 tahun penjara
Indonesia
•
29 Jun 2022

Universitas-universitas di Australia serukan penyediaan kuliah gratis bagi mahasiswa kurang mampu
Indonesia
•
30 Jan 2024

Bocah 17 tahun jadi pilot termuda yang terbang solo keliling dunia
Indonesia
•
25 Aug 2022
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026
