
Riset: Long COVID berkaitan dengan kadar oksigen otak yang lebih rendah

Seorang pelancong berjalan menuju pintu masuk di Bandar Udara Nasional Ronald Reagan Washington di Arlington, Virginia, Amerika Serikat, pada 14 April 2022. (Xinhua/Ting Shen)
Penelitian Long COVID-19 oleh tim peneliti dari University of Waterloo menunjukkan bahwa kondisi kesehatan tersebut memiliki kaitan dengan penurunan kadar oksigen otak, kinerja tes kognitif yang lebih buruk, dan peningkatan gejala psikiatris seperti depresi dan kecemasan.
Los Angeles, AS (Xinhua) – Long COVID memiliki kaitan dengan penurunan kadar oksigen otak, kinerja tes kognitif yang lebih buruk, dan peningkatan gejala psikiatris seperti depresi dan kecemasan, menurut sebuah riset tentang dampak penyakit tersebut yang baru dipublikasikan.Tim peneliti dari University of Waterloo menggabungkan hasil dari dua studi paralel baru, yakni sebuah studi laboratorium yang melibatkan pencitraan dan pengujian kognitif terhadap kadar oksigen di otak, dan sebuah survei populasi nasional Kanada pada 2021 dan 2022.Studi laboratorium itu menemukan bahwa individu yang pernah mengalami penyakit COVID-19 simtomatik menunjukkan kinerja yang lebih buruk dalam dua tugas komputer. Tugas yang pertama mengukur inhibisi, sementara tugas kedua menilai pengambilan keputusan impulsif.Jika dibandingkan dengan mereka yang belum pernah terinfeksi, orang yang pernah terinfeksi menunjukkan kurangnya peningkatan saturasi oksigen di area otak yang normalnya digunakan dalam salah satu tugas itu, menurut studi tersebut.Sementara itu, survei populasi yang dilakukan terhadap lebih dari 2.000 warga Kanada berusia 18-56 tahun itu mempelajari kaitan antara COVID-19, fungsi kognitif, dan gejala psikiatris.Responden yang mengidap COVID-19 melaporkan kesulitan dalam berkonsentrasi dan sejumlah masalah dengan inhibisi, serta peningkatan gejala kecemasan dan depresi.Penelitian Long COVID-19 tersebut diterbitkan dalam jurnal Brain, Behavior, & Immunity - Health edisi Maret."Dua studi kami, dengan menggunakan metode yang sangat berbeda, menyoroti perlunya memahami berbagai ancaman dari penyakit COVID-19," ujar Dr. Peter Hall, penulis utama sekaligus peneliti di Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Waterloo."Kita masih perlu mengetahui lebih banyak tentang bagaimana faktor-faktor seperti vaksinasi memengaruhi arah Long COVID. Kita juga perlu mengetahui tentang bagaimana beberapa kondisi fisik seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi dapat memengaruhi mekanisme dan hasil ini," kata Hall.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Sistem saluran air berusia 4.000 tahun ditemukan di China tengah
Indonesia
•
10 Apr 2026

Panjang Gua C7 dalam sistem gua vulkanik Krong No Vietnam bertambah jadi 1.240 meter
Indonesia
•
09 Dec 2022

China kembangkan membran baru yang dimodifikasi untuk desalinasi air laut
Indonesia
•
15 Mar 2023

‘Easy card’ buat hidup semakin mudah di Taiwan
Indonesia
•
11 Apr 2021


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
