
Pengetatan impor barang di ‘e-commerce’ Indonesia dinilai untungkan UMKM lokal

Foto yang diabadikan pada 4 Oktober 2023 ini menunjukkan suasana Pasar Tanah Abang Blok A di Jakarta Pusat. (Xinhua)
Pengetatan impor barang di e-commerce Indonesia bertujuan untuk mendukung pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pelaku usaha perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) dalam negeri dan untuk meningkatkan perlindungan konsumen.
Jakarta (Xinhua) – Pemerintah Republik Indonesia memperketat sejumlah aturan impor barang yang dibeli melalui e-commerce seperti memberlakukan minimum harga barang dan kewajiban lokapasar (marketplace) melapor ke kantor kepabeanan dan cukai setempat.Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI pada akhir bulan lalu menerbitkan aturan baru yang salah satunya mengatur batas minimum harga barang yang boleh diimpor langsung melalui e-commerce sebesar 100 dolar AS per unit. Nantinya, pengecualian untuk beberapa barang tertentu tetap diberlakukan namun masih dalam proses pembahasan oleh sejumlah kementerian terkait.Selain itu, Kementerian Keuangan RI pada pertengahan September lalu juga menerbitkan aturan baru terkait perlakuan kepabeanan atas ekspor dan impor yang salah satunya mewajibkan e-commerce melaporkan data katalog elektronik (e-catalog) dan tagihan (invoice) elektronik dari barang kiriman kepada kantor bea dan cukai. Aturan ini mulai berlaku pada pertengahan November 2023.Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dalam pernyataannya menyebut bahwa aturan itu keluar setelah adanya temuan persaingan tidak sehat yang dilakukan oleh pedagang luar negeri melalui skema predatory pricing atau "banting harga" sehingga dapat menjual barang secara lebih murah dari barang serupa yang dibuat di Indonesia. Selain itu, banyak barang impor di e-commerce yang ternyata tidak sesuai standar nasional."Peraturan menteri perdagangan (permendag) ini juga bertujuan untuk mendukung pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pelaku usaha perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) dalam negeri dan untuk meningkatkan perlindungan konsumen," kata pria yang akrab disapa Zulhas itu dalam sebuah konferensi pers pada akhir September lalu.Dalam sebuah rapat di Istana Negara pada Jumat (6/10), menteri ekonomi menyepakati pengetatan impor sejumlah komoditas yang umumnya banyak dijual di e-commerce seperti pakaian, produk tekstil lainnya, mainan anak hinga suplemen. Impor sejumlah barang itu akan makin diawasi ketat oleh otoritas bea dan cukai. Keputusan lainnya yakni pemerintah berencana membuat tim khusus untuk mengawasi impor.Pengamat ekonomi digital dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, memperkirakan berbagai langkah pengetatan yang ditujukan bagi e-commerce hanya efektif menekan impor barang yang sifatnya dikirim langsung dari pedagang luar negeri ke konsumen melalui e-commerce.Sementara, barang impor yang masuk melalui perantara pedagang lokal mungkin tidak akan terdampak karena e-commerce belum punya fitur yang bisa mengidentifikasi antara barang produksi lokal dan impor. Karena itu, dia menekankan perlu ada sertifikasi yang membedakan produk lokal dan impor yang dijual di e-commerce.Peneliti sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE Indonesia), Mohammad Faisal, menyebut langkah pengetatan itu lumrah ditempuh negara lain sebagai hambatan non tarif menekan impor. Aturan ini bisa berdampak positif bagi UMKM lokal khususnya yang memproduksi barang substitusi impor."Beberapa sektor yang bisa diuntungkan di antaranya termasuk industri kecil produsen alat-alat kebutuhan rumah tangga, pakaian dan aksesori, alas kaki, mainan, dan lainnya," ujar Faisal.Di sisi lain, dia tidak khawatirkan berbagai regulasi itu bisa berdampak terhadap keberlanjutan ekosistem bisnis e-commerce di Indonesia yang kini tengah berkembang pesat seiring meningkatnya tren belanja daring pascapandemi COVID-19. Aturan ini justru bisa meningkatkan nilai transaksi produk lokal di e-commerce yang nilainya di bawah 100 dolar AS per unit.Bank Indonesia melaporkan nilai transaksi di e-commerce Indonesia mencapai 467 triliun rupiah pada tahun lalu dan diperkirakan menyentuh 533 triliun rupiah pada tahun ini. Laporan lembaga riset dan penyedia jasa marketing We Are Social menyebut total 178,9 juta penduduk Indonesia berbelanja barang melalui internet sepanjang tahun lalu.*1 dolar AS = 15.601 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Indonesia dorong kerja sama global perlindungan warga, akses vaksin dan mitigasi pandemik
Indonesia
•
04 Sep 2020

Lembaga sertifikasi halal berbasis komunitas Muslim Indonesia hadir di Jepang
Indonesia
•
30 Sep 2024

Kebijakan penangkapan ikan terukur dorong perputaran uang 281 triliun rupiah
Indonesia
•
24 Nov 2021

94 guru dikirim ke pusat kegiatan belajar Indonesia di Sabah-Sarawak
Indonesia
•
22 Oct 2019


Berita Terbaru

Indonesia masuk zona merah kabut asap 2026, Agustus-September jadi periode paling berbahaya
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Herdman dan peta jalan baru timnas Indonesia: Mimpi ke Piala Dunia 2030 dimulai
Indonesia
•
21 Jun 2026

Feature – Mengapa orang Indonesia tetap demam Piala Dunia meski timnas tak bermain? Ini jawaban psikolog
Indonesia
•
21 Jun 2026

Jamu bakal punya pusat pengobatan modern, Indonesia gandeng China untuk mewujudkannya
Indonesia
•
20 Jun 2026
