
Peneliti China prediksi pemanasan global berpotensi tingkatkan fenomena cuaca ‘Mei-yu’

Foto dari udara yang diabadikan pada 24 Agustus 2022 ini memperlihatkan salah satu bagian Sungai Yangtze di Ruichang, Kota Jiujiang, Provinsi Jiangxi, China timur. (Xinhua/Zhou Mi)
Peningkatan suhu global akan menyebabkan Mei-yu yang lebih kuat di kawasan lembah Sungai Yangtze, China, yang umumnya berlangsung dari 15 Juni hingga 10 Juli setiap tahun.
Beijing, China (Xinhua) – Sejumlah peneliti China memperkirakan bahwa peningkatan suhu global akan menyebabkan Mei-yu yang lebih kuat di kawasan lembah Sungai Yangtze, China, menurut China Science Daily pada Senin (9/10).Mei-yu merupakan fenomena cuaca basah yang penting di kawasan lembah bagian tengah-bawah Sungai Yangtze di China, yang umumnya berlangsung dari 15 Juni hingga 10 Juli setiap tahunnya. Fenomena itu memiliki dampak yang luas terhadap pertanian, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.Para peneliti dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informasi Nanjing menyelidiki perubahan karakteristik Mei-yu di bawah pengaruh pemanasan global dan alasan-alasan yang mungkin terjadi berdasarkan pengamatan dan analisis ulang data antara tahun 1961 dan 2022.Menurut artikel penelitian terbaru mereka yang diterbitkan dalam jurnal National Science Review, tren jangka panjang yang meningkat secara signifikan terdeteksi pada jumlah hari tanpa curah hujan, intensitas kejadian curah hujan, serta frekuensi dan intensitas kejadian presipitasi ekstrem di wilayah lembah Sungai Yangtze selama periode Mei-yu dalam beberapa dekade terakhir.Tren peningkatan jumlah hari tanpa curah hujan disebabkan oleh penurunan kelembapan relatif di atas permukaan tanah dan waktu yang lebih lama bagi udara untuk terisi kembali dengan kelembapan setelah turunnya hujan dalam iklim yang memanas, tulis artikel tersebut.Tren peningkatan intensitas kejadian hujan serta frekuensi dan intensitas kejadian presipitasi ekstrem tersebut disebabkan oleh konvergensi uap air sementara dan konveksi di atmosfer yang semakin kuat akibat pemanasan global.Para peneliti itu menemukan bahwa jumlah hari tanpa curah hujan, intensitas kejadian curah hujan, dan frekuensi kejadian presipitasi ekstrem akan meningkat di kawasan lembah Sungai Yangtze selama periode Mei-yu dalam skenario pemanasan dua derajat Celsius.Secara keseluruhan, intensitas kejadian hujan selama periode Mei-yu memiliki respons yang paling signifikan terhadap perubahan iklim dalam pengamatan dan proyeksi.Para peneliti mengakui ketidakpastian yang relatif besar dalam penelitian mereka karena model penelitian ini memiliki kemampuan terbatas untuk menyimulasikan perubahan Mei-yu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Lebih dari 1000 bilah bambu kuno dipamerkan di museum China
Indonesia
•
10 Sep 2023

Australia larang tambang batu bara untuk lindungi Great Barrier Reef
Indonesia
•
05 Aug 2022

Nvidia dan OpenAI bekerja sama dengan UEA dalam proyek ambisius pusat data AI ‘Stargate’
Indonesia
•
26 May 2025

Studi di China soroti penuaan sumsum tulang belakang
Indonesia
•
04 Nov 2023


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
