
Para pemimpin Asia suarakan kekhawatiran terkait kebijakan tarif AS

Foto yang diabadikan pada 10 Mei 2025 ini menunjukkan kapal kargo yang mengangkut kontainer di Pelabuhan Los Angeles di California, Amerika Serikat. (Xinhua/Qiu Chen)
Perang dagang merusak sistem perdagangan multilateral yang bebas, terbuka, inklusif, dan berbasis aturan, serta berdampak secara tidak proporsional terhadap kelompok yang paling rentan.
Tokyo, Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Para pemimpin politik dan mantan kepala negara dari seluruh Asia menyuarakan kekhawatiran mereka terkait kebijakan tarif pemerintah Amerika Serikat (AS), menyerukan persatuan yang lebih kuat di antara negara-negara Asia untuk mengatasi berbagai tantangan bersama.Berbicara di forum internasional ‘Future of Asia’ ke-30 yang diselenggarakan di Tokyo pada 29 hingga 30 Mei, Wakil Perdana Menteri (PM) Singapura Gan Kim Yong memperingatkan bahwa tatanan perdagangan global saat ini berada dalam ancaman.Dia mengimbau negara-negara Asia untuk bersatu dalam menghadapi isu-isu perdagangan yang timbul akibat tarif AS dan menekankan pentingnya memperluas kerja sama melalui Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership/CPTPP), khususnya di bidang perdagangan dan industri.Sementara itu, PM Kamboja Hun Manet mengatakan bahwa perang dagang merusak sistem perdagangan multilateral yang bebas, terbuka, inklusif, dan berbasis aturan, serta berdampak secara tidak proporsional terhadap kelompok yang paling rentan. Dia menyerukan persatuan di antara negara-negara yang menghadapi tekanan terkait kebijakan tarif tersebut.Presiden Laos Thongloun Sisoulith menekankan pentingnya hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati, menjelaskan bahwa meskipun Laos memiliki perdagangan yang terbatas dengan AS, tarif yang tinggi tetap dapat berdampak pada perekonomian dan iklim investasi negara tersebut.Wakil PM Vietnam Nguyen Chi Dung menyebutkan bahwa tarif AS memiliki dampak nyata terhadap ekspor dan investasi Vietnam.Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad mengkritik kebijakan tarif AS, mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut dapat merugikan perekonomian AS itu sendiri dan meningkatkan biaya hidup di dalam negeri.Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1995, forum ‘Future of Asia’ yang digelar setiap tahun oleh Nikkei Inc. telah menjadi platform utama untuk membahas kerja sama regional.Forum tahun ini berfokus pada bagaimana kawasan Asia dapat mendorong kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi melalui kolaborasi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Modal asing keluar Indonesia 8,35 triliun rupiah di pekan keempat Juni
Indonesia
•
24 Jun 2022

Analis: Minyak bisa sentuh 100 dolar karena krisis Rusia-Ukraina
Indonesia
•
04 Feb 2022

Menlu Wang Yi: China bersedia jadi kekuatan penstabil pertumbuhan global
Indonesia
•
19 Feb 2024

Inflasi Inggris sentuh 11,1 persen pada Oktober 2022, tertinggi dalam 41 tahun
Indonesia
•
23 Nov 2022


Berita Terbaru

China bisa jadi penopang prospek ekonomi Indonesia di tengah risiko perlambatan
Indonesia
•
11 May 2026

Bank Sentral Malaysia dan Indonesia teken MoU untuk perdalam kerja sama
Indonesia
•
11 May 2026

Sertifikat asal dari bea cukai China timur laut fasilitasi produk China masuki pasar Indonesia
Indonesia
•
10 May 2026

Permintaan cip tetap kuat di tengah ketegangan geopolitik
Indonesia
•
07 May 2026
