
Pakar China dan AS serukan kolaborasi bilateral bidang ketahanan pangan dan pertanian

Seorang pekerja di bidang pertanian mengamati mesin penuai beroperasi di sebuah lahan pertanian di Desa Guquan, Kota Chongzhou, Provinsi Sichuan, China barat daya, pada 15 Mei 2024. (Xinhua/Wang Xi)
Perdagangan bilateral yang terbuka dinilai penting untuk komoditas pangan dan hasil bumi, selain pertukaran pemuda dalam mendobrak hambatan politik dan geopolitik yang ada.
New York City, AS (Xinhua) – Amerika Serikat (AS) dan China perlu berkolaborasi untuk mengatasi kerawanan pangan dan berbagai tantangan lainnya di bidang pertanian, kata sejumlah pakar dari kedua negara.Kedua negara sama-sama sedang menghadapi masalah kerawanan pangan, baik di sisi produksi maupun konsumsi, kata Caitlin Welsh, direktur Program Ketahanan Pangan dan Air Global di Center for Strategic and International Studies."Kedua belah pihak akan memetik manfaat dari pendekatan yang dapat diterapkan bersama untuk memperbaiki isu kerawanan pangan," kata Welsh dalam sebuah diskusi panel daring yang diselenggarakan oleh Brookings Institution pada Selasa (21/3).Jika pendekatan-pendekatan tersebut nantinya diperluas ke negara-negara lain yang juga menghadapi kerawanan pangan, maka hal ini dapat menghasilkan stabilitas yang lebih besar, pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, dan mitra dagang yang lebih banyak bagi negara-negara tersebut, ujar Welsh.Dia mengharapkan adanya peningkatan pertukaran pendidikan antara China dan AS, serta peningkatan kerja sama antara pihak-pihak non-negara seperti para peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan sebagainya.Kedua negara harus berkolaborasi dalam bidang pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture/CSA) mengingat perubahan iklim terus menggerus ketahanan pangan dan gizi global serta memperparah dampak konflik, ujar Fan Shenggen, ketua profesor di Universitas Pertanian China.Ada banyak potensi bagi China dan AS untuk saling belajar dari satu sama lain, kata Fan, yang mengidentifikasi pendidikan, teknologi, perdagangan, dan pemuda sebagai empat bidang strategis kerja sama bilateral.Dia juga menggarisbawahi pentingnya perdagangan bilateral yang terbuka untuk komoditas pangan dan hasil bumi, serta peran penting pertukaran pemuda dalam mendobrak hambatan politik dan geopolitik yang ada.Pertukaran peneliti dan ilmuwan jelas merupakan kepentingan kedua negara, kata Joseph Glauber, senior research fellow di International Food Policy Research Institute.Glauber, yang bekerja sebagai kepala ekonom di Departemen Pertanian AS sejak 2008 hingga 2014, menceritakan kembali kunjungannya ke China untuk menghadiri sebuah konferensi di mana para ilmuwan bekerja sama dengan para peneliti yang mengkaji isu-isu yang menjadi kepentingan bersama."Saya tidak suka melihat kerja sama semacam itu menjadi kendur. Menurut saya kita perlu melanjutkannya, melakukan lebih banyak lagi karena ada banyak masalah di luar sana yang membutuhkan masukan dari kedua belah pihak," tutur Glauber.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China targetkan 100.000 kendaraan berbasis sel bahan bakar per 2030
Indonesia
•
17 Mar 2026

Produsen benang rajut China bangun pabrik di Jawa Barat dengan investasi Rp500 miliar
Indonesia
•
03 May 2025

Penjualan Amazon tumbuh menjadi 134,4 miliar dolar AS pada kuartal kedua 2023
Indonesia
•
06 Aug 2023

Harga domba dan sapi naik, warga Mesir pilih unta sebagai hewan kurban Idul Adha
Indonesia
•
01 Jun 2025


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
