
Ilmuwan China temukan ‘efek roket’ yang dorong pergerakan bongkahan batu di permukaan komet

Komet C/2023 A3 (Tsuchinshan-ATLAS) terlihat di langit di atas Tembok Besar seksi Panlongshan di Beijing, ibu kota China, pada 19 Oktober 2024. (Xinhua/Ou Dongqu)
Pergerakan mendadak dari sebuah bongkahan batu di permukaan komet dikaitkan dengan fenomena yang dikenal sebagai ‘efek roket’, yang diakibatkan oleh semburan es volatil asimetris di dalam bongkahan batu tersebut.
Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Ilmuwan China mengaitkan pergerakan mendadak dari sebuah bongkahan batu di permukaan komet dengan fenomena yang dikenal sebagai ‘efek roket’, yang diakibatkan oleh semburan es volatil asimetris di dalam bongkahan batu tersebut.Temuan itu, yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal, didasarkan pada data yang didapatkan oleh misi Rosetta Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA) dalam aktivitas penerbangan di ketinggian rendah (close flyby) dan pengamatannya terhadap komet 67P selama dua tahun dari 2014 hingga 2016.Pada 2015, wahana antariksa Rosetta milik ESA mendeteksi bongkahan batu tersebut bergeser sekitar 140 meter ke utara di dekat perihelion komet. Sebuah tim yang dipimpin oleh Shi Xian dari Observatorium Astronomi Shanghai di Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) menganalisis gambar beresolusi tinggi dan data termal, kemudian menyimpulkan bahwa sublimasi es volatil yang tidak merata di dalam bongkahan batu tersebut menghasilkan daya dorong, yang mendorongnya melintasi permukaan.Bagian utama komet adalah inti atau nukleus. Saat berada jauh dari matahari, komet hanyalah nukleus. Saat mendekati matahari, es di dalam nukleus atau inti komet mengalami sublimasi, membawa debu hingga membentuk koma di sekitar inti komet dan meninggalkan jejak ekor di belakangnya.Dengan menganalisis sejarah termodinamika bongkahan batu itu dan area di sekitarnya, tim peneliti menemukan asimetri dalam akumulasi panas di sisi utara dan selatan batu itu. Saat bergerak, suhu bagian dalam di sisi selatan mencapai puncaknya, sementara sisi utara tetap memiliki suhu dingin yang tak biasa.Berdasarkan temuan ini, para peneliti merumuskan mekanisme baru terkait pergerakan bongkahan batu, yakni es volatil di dalam bongkahan batu mengalami ledakan hebat di satu sisi akibat pemanasan asimetris. Proses ini menciptakan ‘efek roket’, yang menghasilkan net thrust yang diarahkan ke bawah di sepanjang lereng utara, yang memicu pergerakan jarak jauh bongkahan batu.Tim itu juga menyusun secara terperinci kronologi aktivitas dan perubahan di lokasi bongkahan batu itu bergerak. Mereka menyadari bahwa selama dan setelah pergerakan batu itu, sering terjadi semburan debu di dekatnya pada malam hari, yang kemungkinan terjadi karena pergerakan batu besar itu mengekspos lapisan es di bawahnya.Sebagai sisa-sisa tata surya purba, komet memberikan banyak informasi tentang tahap awal tata surya, menjadikannya sebagai subjek penting untuk mempelajari pembentukan dan evolusi sistem planet, kata Shi."Seiring berjalannya penelitian kami, kami menemukan keberagaman aktivitas komet yang tidak terduga. Memahami mekanisme di baliknya dapat membantu kami mengungkap misteri evolusi tata surya dan asal-usul kehidupan," tambah Shi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Fasilitas iptek informasi, ilmu hayati, dan material baru dibuka di Shenzhen, China
Indonesia
•
01 May 2023

China duduki peringkat pertama dalam pengajuan paten internasional pada 2023
Indonesia
•
14 Mar 2024

Apple akan perluas laboratorium penelitian terapan di China
Indonesia
•
13 Mar 2024

Peneliti Australia jelajahi Antarktika untuk pahami perubahan iklim
Indonesia
•
06 Jan 2024


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
