
Pejabat IMF peringatkan risiko perang dagang bagi perekonomian berpendapatan rendah di Asia

Direktur Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF) Krishna Srinivasan berbicara dalam sebuah wawancara dengan Xinhua di Washington DC, Amerika Serikat, pada 22 Oktober 2024. (Xinhua/Hu Yousong)
Pertumbuhan Asia sedang melambat karena ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung, dengan perekonomian-perekonomian berpendapatan rendah di Asia dapat terdampak signifikan.
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Pertumbuhan Asia sedang melambat karena ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung, demikian dikatakan Direktur Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF) Krishna Srinivasan, memperingatkan bahwa perekonomian-perekonomian berpendapatan rendah di Asia dapat terdampak signifikan.Pada Kamis (24/4), IMF memproyeksikan pertumbuhan di Asia dan Pasifik akan melambat menjadi 3,9 persen tahun ini di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan, menandai penurunan 0,5 poin persentase dari proyeksi sebelumnya.Penurunan proyeksi ini disebabkan oleh "tarif, ketegangan perdagangan, ketidakpastian yang kian meningkat, dan pengetatan kondisi keuangan," kata Srinivasan kepada Xinhua dalam sebuah wawancara setelah IMF merilis proyeksi terbarunya untuk Asia."Ketidakpastian yang kian meningkat, kondisi keuangan yang makin mengetat, dan permintaan eksternal yang kian melambat, semua kondisi tersebut dapat memengaruhi kawasan secara lebih negatif," paparnya.Pejabat IMF itu mengatakan bahwa menghadapi ancaman tarif Amerika Serikat (AS) yang tajam, perekonomian-perekonomian yang lebih kecil dan berpendapatan rendah dapat terdampak "jauh lebih signifikan."Menyebutkan bahwa tidak semua negara memiliki ruang kebijakan, Srinivasan mengatakan, "Dalam konteks guncangan besar (tarif), penurunan yang besar dalam permintaan eksternal ... ditambah fakta bahwa Anda memiliki ruang kebijakan yang lebih kecil, negara-negara tersebut menjadi jauh lebih rentan.""Negara-negara yang lebih kecil mungkin memiliki pengaruh yang lebih kecil, mungkin memiliki fleksibilitas yang lebih kecil untuk melakukan negosiasi. Dan itu bukan pertanda baik," imbuhnya.Ke depannya, Srinivasan mendorong perekonomian-perekonomian di Asia untuk menggenjot konsumsi dalam negeri, serta mengembangkan model pertumbuhan yang lebih seimbang yang mengandalkan permintaan domestik dan ekspor.
Seorang pelanggan berbelanja di sebuah toko makanan ringan di Mengzi, Prefektur Otonom Etnis Hani dan Yi Honghe, Provinsi Yunnan, China barat daya, pada 16 April 2025. (Xinhua/Xue Yingying)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Lebih dari 40 UKM Indonesia berpartisipasi dalam House of Handicraft Indonesia di Tokyo
Indonesia
•
25 Sep 2024

Modal asing keluar Indonesia 1,3 miliar dolar AS hingga akhir Maret
Indonesia
•
13 Apr 2022

Sektor penerbangan sipil China kembali ke tingkat sebelum pandemik
Indonesia
•
13 Jul 2023

Feature – Kapal selam wisata berawak sipil China siap layani proyek pariwisata Indonesia
Indonesia
•
24 Jan 2026


Berita Terbaru

China targetkan 100.000 kendaraan berbasis sel bahan bakar per 2030
Indonesia
•
17 Mar 2026

Negara-Negara anggota Badan Energi Internasional di Kawasan Asia-Oseania akan "segera" lepas cadangan minyak darurat
Indonesia
•
17 Mar 2026

Jepang mulai lepas cadangan minyak di tengah konflik Timur Tengah
Indonesia
•
17 Mar 2026

Menteri Energi Inggris sebut penutupan Selat Hormuz rugikan ekonomi global
Indonesia
•
17 Mar 2026
