
Perundingan Rusia-Ukraina di UEA hasilkan kesepakatan tukar tawanan, isu utama belum tuntas

Foto yang diabadikan pada 21 April 2025 ini menunjukkan Kremlin dan Katedral Santo Basil di Moskow, Rusia. (Xinhua/Cao Yang)
Putaran kedua perundingan antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi oleh Amerika Serikat di Abu Dhabi menghasilkan kesepakatan pertukaran tawanan dalam skala besar, namun gagal mencapai terobosan substantif terkait isu-isu utama seperti pengaturan wilayah dan gencatan senjata.
Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (Xinhua/Indonesia Window) – Putaran kedua perundingan antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) berakhir pada Kamis (5/2) di Abu Dhabi. Kedua belah pihak sepakat melakukan pertukaran tawanan dalam skala besar, namun gagal mencapai terobosan substantif terkait isu-isu utama seperti pengaturan wilayah dan gencatan senjata.
Menurut pihak Ukraina, perundingan awalnya dilakukan dalam format trilateral sebelum dilanjutkan dengan konsultasi kelompok. Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Rustem Umerov mengatakan delegasi Ukraina mengupayakan "perdamaian yang bermartabat dan langgeng," tanpa mengungkapkan hasil spesifik dari pertemuan tersebut.
Perundingan berakhir tanpa pernyataan politik atau keamanan bersama, yang menegaskan masih adanya perbedaan antara Rusia dan Ukraina dalam sejumlah persoalan utama, termasuk sengketa wilayah, pengaturan gencatan senjata, dan jaminan keamanan.
Steve Witkoff, utusan khusus presiden AS, mengatakan perwakilan dari ketiga negara mencapai kesepakatan mengenai pertukaran tawanan. Dia menggambarkan perundingan tersebut "spesifik dan konstruktif," seraya menambahkan diperlukan upaya yang lebih besar untuk mendorong tercapainya penyelesaian konflik secara menyeluruh.
Menyusul perundingan tersebut, Rusia dan Ukraina melaksanakan pertukaran tawanan berskala besar pertama mereka dalam hampir lima bulan, dengan masing-masing pihak memulangkan 157 orang yang ditawan. Menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, mereka yang dibebaskan mencakup personel militer dan warga sipil.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) menyambut baik kerja sama antara Rusia dan Ukraina dalam pertukaran tawanan tersebut, seraya menyatakan hal itu menunjukkan peran UEA sebagai mediator yang dapat diandalkan dalam meredakan krisis dan mendorong dialog yang konstruktif.
Tidak ada pengumuman mengenai jadwal maupun pengaturan untuk putaran perundingan berikutnya, menyoroti ketidakpastian yang masih berlanjut dalam proses penyelesaian politik.
Zelensky pada Kamis mengatakan perundingan damai berikutnya dengan delegasi AS dan Rusia akan segera digelar. "Pertemuan selanjutnya direncanakan dalam waktu dekat, kemungkinan di AS," ujar Zelensky dalam pidato malamnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Bersatu untuk perdamaian dunia dan mendukung partisipasi Taiwan di PBB
Indonesia
•
05 Sep 2023

Fokus Berita – Meski unggul di medan perang, Israel terperosok dalam perang tanpa strategi politik untuk keluar
Indonesia
•
22 Jul 2025

Jaksa putuskan tak ajukan banding, Presiden Korsel dibebaskan
Indonesia
•
09 Mar 2025

Wawancara – Akademisi sebut upaya Barat persenjatai Ukraina perpanjang krisis
Indonesia
•
22 Feb 2023


Berita Terbaru

AS intensifkan pengumpulan intelijen militer di lepas pantai Kuba
Indonesia
•
11 May 2026

Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"
Indonesia
•
11 May 2026

Para pemimpin ASEAN rilis pernyataan bersama soal krisis Timur Tengah di KTT ASEAN 2026
Indonesia
•
10 May 2026

AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi
Indonesia
•
08 May 2026
