
Perusahaan pertanian dan pangan rugi 150 miliar dolar AS akibat perubahan iklim

Seorang petani menganginkan beras di Desa Purasari di Kabupaten Bogor pada 19 Oktober 2021. (Xinhua/Veri Sanovri)
Dampak perubahan iklim terhadap perusahaan pertanian dan pangan adalah kerugian hingga seperempat dari nilai bisnis pada tahun 2030 jika mereka tidak beradaptasi dengan kebijakan baru pemerintah dan perilaku konsumen yang terkait dengan situasi tersebut.
Jakarta (Indonesia Window) – Perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia yang bergerak di sektor pertanian dan pangan bisa mengalami kerugian hingga seperempat dari nilai bisnis pada tahun 2030 jika mereka tidak beradaptasi dengan kebijakan baru pemerintah dan perilaku konsumen yang terkait dengan perubahan iklim, kata juru kampanye yang berafiliasi dengan PBB dalam sebuah laporan terbaru.Penelitian yang dipresentasikan pada Selasa itu melihat bagaimana 40 perusahaan besar termasuk produsen pertanian dan pengecer makanan dapat berjalan di bawah skenario kunci untuk mengurangi emisi, seperti jika pemerintah mengenakan harga emisi karbon atau jika konsumen mengurangi konsumsi daging mereka.Studi tersebut, yang dilihat oleh Reuters News, menemukan bahwa nilai perusahaan akan turun rata-rata sekitar 7 persen pada tahun 2030, atau setara dengan kerugian investor sekitar 150 miliar dolar AS, jika mereka tidak mengadopsi praktik baru.Pada saat yang sama, area bisnis seperti daging berbasih bahan nabati dan restorasi hutan menawarkan peluang baru yang besar bagi perusahaan yang sama, kata laporan itu.Laporan tersebut tidak menyebutkan nama perusahaan tertentu sehingga tidak dianggap sebagai saran investasi, kata seorang perwakilan kampanye.Laporan itu diterbitkan oleh Race to Zero, yakni gerakan kampanye yang didukung PBB untuk mengatasi perubahan iklim.Para peneliti menggunakan data dari Vivid Economics, bagian dari perusahaan konsultan McKinsey & Co. Laporan tersebut akan dipresentasikan pada Climate Week di New York, AS, yang menampilkan serangkaian acara yang terkait dengan pertemuan para pemimpin dunia di kota tersebut.Para pendukung penyusunan laporan tersebut mengatakan, temuan para peneliti menunjukkan pentingnya seruan sebelumnya bagi investor dan perusahaan untuk menghilangkan komoditas yang terkait dengan produk seperti sapi, minyak sawit dan kedelai yang berkontribusi terhadap deforestasi.Lebih dari 100 pemimpin global tahun lalu berjanji untuk menghentikan, serta memperbaiki deforestasi dan degradasi lahan pada akhir dekade ini.“Kenyataannya sangat mencolok: Risiko alam dengan cepat menjadi faktor integral dari risiko investasi,” kata Peter Harrison, kepala eksekutif Schroders Plc., dalam sebuah pernyataan yang dikirim oleh perwakilan Race to Zero.*1 dolar AS = 14.985 rupiahSumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Perusahaan layanan truk berusia 99 tahun di AS pailit, picu kekhawatiran 30.000 pekerja dan kreditur
Indonesia
•
08 Aug 2023

Industri waralaba di Indonesia tunjukkan tren pertumbuhan positif
Indonesia
•
27 Apr 2025

Perusahaan teknologi energi surya China incar pasar Indonesia
Indonesia
•
28 Apr 2025

Kecamatan Babakan Madang majukan pariwasata bersama Pramuka
Indonesia
•
20 May 2023


Berita Terbaru

China bisa jadi penopang prospek ekonomi Indonesia di tengah risiko perlambatan
Indonesia
•
11 May 2026

Bank Sentral Malaysia dan Indonesia teken MoU untuk perdalam kerja sama
Indonesia
•
11 May 2026

Sertifikat asal dari bea cukai China timur laut fasilitasi produk China masuki pasar Indonesia
Indonesia
•
10 May 2026

Permintaan cip tetap kuat di tengah ketegangan geopolitik
Indonesia
•
07 May 2026
