
Data sebut perusahaan AS kurangi lebih banyak pekerja

Para pengunjuk rasa melakukan aksi pawai di pusat kota Los Angeles (LA), Negara Bagian California, Amerika Serikat, pada 1 Mei 2025. Ribuan orang pada Kamis (1/5) berkumpul di pusat kota LA untuk mengikuti aksi unjuk rasa dan pawai Hari Buruh Internasional yang diselenggarakan oleh Los Angeles May Day Coalition guna memperjuangkan hak-hak pekerja dan imigran. (Xinhua/Qiu Chen)
Perusahaan-perusahaan publik Amerika Serikat secara kolektif telah mengurangi 3,5 persen pekerja kerah putih mereka selama tiga tahun terakhir.
New York City, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Perusahaan-perusahaan publik Amerika Serikat (AS) secara kolektif telah mengurangi 3,5 persen pekerja kerah putih mereka selama tiga tahun terakhir, demikian menurut penyedia data ketenagakerjaan Live Data Technologies, dengan satu dari lima perusahaan di S&P 500 menyusut selama satu dekade terakhir."Pemangkasan ini lebih dari sekadar pemangkasan biaya tipikal dan menunjukkan pergeseran filosofi yang lebih luas," demikian dilansir The Wall Street Journal tentang perkembangan ini. "Menambah talenta, yang dulu mengindikasikan lonjakan penjualan dan keyakinan akan masa depan, kini berarti para pemimpin pasti melakukan kesalahan."Teknologi baru seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif memungkinkan perusahaan untuk melakukan lebih banyak hal dengan lebih sedikit sumber daya. Namun, ada yang lain dari gerakan ini. Dari Amazon di Seattle hingga Bank of America di Charlotte, North Carolina, dan di perusahaan-perusahaan besar maupun kecil di mana pun di antara keduanya, ada keyakinan yang berkembang bahwa memiliki terlalu banyak karyawan justru menjadi penghalang. "Pesan dari banyak bos: Siapa pun yang masih ada dalam daftar gaji bisa bekerja lebih keras," tulis laporan tersebut.Semua penyusutan ini mengubah siklus perekrutan dan pemecatan yang biasa terjadi. Perusahaan-perusahaan sering kali memberhentikan pekerja di masa resesi, lalu merekrut kembali ketika ekonomi mulai membaik. Namun pengurangan tenaga kerja dalam beberapa tahun terakhir berbarengan dengan lonjakan penjualan dan laba, menandai perubahan yang lebih mendasar dalam cara para pemimpin mengevaluasi tenaga kerja mereka, tambahnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Triliuner Ambani dari India uraikan pewaris bisnis Reliance senilai 220 miliar dolar AS
Indonesia
•
30 Aug 2022

Feature - Indonesia raih penghargaan The New Destination Champion Award 2026 by LA LISTE
Indonesia
•
29 Nov 2025

Konflik di Teluk picu lonjakan biaya pelayaran, industri tanggung beban 340 juta euro per hari
Indonesia
•
28 Mar 2026

Fokus Berita – Muhammadiyah dorong penciptaan produk jasa dalam kewirausahaan kampus
Indonesia
•
01 Mar 2024


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
