
Opini – Peternakan ayam broiler dalam krisis: Solusi apa yang dibutuhkan?

Kusnan, peternak rakyat, di peternakan ayam petelur miliknya di Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/9/2024). (Indonesia Window)
Peternakan ayam broiler di Indonesia sedang mengalami tekanan berat, dengan banyak peternak kecil terjebak dalam situasi sulit karena harga jual ayam yang jatuh, tingginya biaya produksi, serta ketidakpastian pasar.
Peternakan ayam broiler di Indonesia sedang mengalami tekanan berat. Banyak peternak kecil terjebak dalam situasi sulit karena harga jual ayam yang jatuh, tingginya biaya produksi, serta ketidakpastian pasar. Di sisi lain, perusahaan besar dengan kekuatan modal kuat semakin mendominasi pasar, membuat peternak rakyat kehilangan daya tawar. Jika keadaan ini terus dibiarkan, ribuan peternak akan bangkrut, pengangguran meningkat, dan ketahanan pangan nasional terganggu. Kondisi ini menjadi alarm serius, bahwa dibutuhkan langkah cepat dan tepat untuk menstabilkan situasi. Peternakan rakyat harus dilindungi, bukan hanya demi kelangsungan usaha mereka, tapi juga demi masa depan kedaulatan pangan Indonesia.Terobosan awal: Suara peternak harus didengarMenghadapi krisis ini, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menguatkan suara peternak. Asosiasi peternak perlu dihidupkan dan diperkuat, menjadi corong utama untuk memperjuangkan hak dan kepentingan peternak kecil. Media massa juga harus digandeng untuk menyebarkan informasi kondisi riil peternakan broiler ke masyarakat luas. Tidak kalah penting, aktivis dan pejuang peternakan harus turun tangan aktif memperjuangkan perubahan di tingkat kebijakan. Dan tentu saja, para peternak sendiri harus berani menyuarakan aspirasinya tanpa takut ditekan. Ketika suara-suara ini bersatu, pemerintah akan lebih sulit menutup mata dan telinga terhadap masalah yang ada.Dukungan pemerintah: Kepemimpinan presiden sangat diperlukanMengatasi krisis peternakan ayam broiler butuh ketegasan dari pucuk pimpinan negara. Presiden perlu membuka ruang dialog langsung dengan peternak untuk mendengar keluhan mereka tanpa perantara. Selain itu, perlu dibentuk tim khusus yang fokus menyelesaikan masalah ini dari hulu ke hilir. Pemerintah juga harus membuat dan menjalankan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada peternak rakyat, seperti subsidi pakan, pengaturan harga jual ayam, dan pengendalian impor. Semua kebijakan yang dibuat harus diawasi pelaksanaannya secara ketat agar tidak mandul di lapangan. Tanpa keterlibatan aktif dan kepemimpinan Presiden, krisis ini sulit untuk benar-benar diselesaikan.Solusi jangka panjang: Revisi dan implementasi UU PeternakanUntuk jangka panjang, perlu ada dasar hukum yang kuat melindungi peternak rakyat. Revisi terhadap UU No. 18 Tahun 2009 jo. UU No. 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan harus segera dijalankan. UU ini penting untuk menjamin keadilan dalam usaha peternakan, memperjelas aturan perizinan, melindungi dari dominasi korporasi besar, serta mengatur perdagangan hewan dan produk hewan agar tidak merugikan peternak lokal. Selain itu, UU ini mewajibkan pemerintah untuk membina dan menyuluh peternak rakyat, serta memperkuat koperasi dan kemitraan yang adil. Jika diterapkan dengan sungguh-sungguh, UU ini bisa menjadi pondasi kokoh membangun masa depan peternakan nasional.Hambatan yang harus diwaspadaiMeskipun solusi-solusi sudah disiapkan, tetap ada tantangan besar di depan mata. Salah satu yang paling serius adalah masuknya investasi besar, baik dari dalam maupun luar negeri, yang bisa menggilas peternak kecil jika tidak ada perlindungan yang kuat. Dominasi integrator besar dalam rantai pasok ayam dan telur juga membuat harga di tingkat peternak sulit untuk stabil. Di sisi lain, impor produk hewan yang berlebihan bisa membuat harga ayam dalam negeri anjlok. Semua tantangan ini harus dihadapi dengan regulasi ketat, keberpihakan nyata pada peternak rakyat, dan keberanian politik untuk melindungi sektor strategis ini demi masa depan bangsa.Membangun masa depan peternakan broiler nasionalMenyelamatkan peternakan ayam broiler bukan hanya tentang ekonomi, tapi tentang menjaga kedaulatan pangan dan masa depan bangsa. Peternak rakyat harus diberi ruang hidup dan berkembang, bukan disingkirkan oleh korporasi besar atau tekanan pasar global. Dengan keberanian bersuara, dukungan pemerintah yang nyata, serta perlindungan hukum yang kuat, bisnis peternakan ayam broiler bisa kembali stabil dan berkelanjutan. Ini saatnya kita semua—peternak, aktivis, pemerintah, dan masyarakat—bersatu memperjuangkan perubahan. Peternakan rakyat adalah aset nasional yang harus dilindungi dan dikembangkan, demi Indonesia yang berdaulat dan sejahtera.SelesaiPenulis: Kusnan [Peternak Rakyat]Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Aljazair peringati 71 tahun Revolusi Nasional, perkuat hubungan dengan Indonesia dan ASEAN
Indonesia
•
04 Nov 2025

Messi kembali dinobatkan sebagai pesepak bola pria terbaik FIFA
Indonesia
•
16 Jan 2024

Indonesia batalkan pemberangkatan jamaah Haji 1441 H
Indonesia
•
02 Jun 2020

Kemenpar rilis katalog ‘Paket Tur Gastronomi’, tampilkan 15 paket terkurasi WISH 2025
Indonesia
•
03 Dec 2025


Berita Terbaru

Para pemimpin ASEAN prioritaskan keamanan dan ketahanan energi serta pangan di KTT Ke-48
Indonesia
•
11 May 2026

Kemiskinan ekstrem di China lenyap, jadi model pengentasan di Indonesia
Indonesia
•
10 May 2026

Analisis – Stabilitas Selat Malaka jadi sorotan di tengah ketegangan lintasan ‘chokepoint’ global
Indonesia
•
10 May 2026

Presiden dorong ekonomi biru, Kampung Nelayan Merah Putih jadi model kemandirian pesisir
Indonesia
•
10 May 2026
