Tim ilmuwan di Australia ciptakan plastik alami untuk penggunaan sehari-hari

Seorang pekerja menunjukkan limbah plastik yang telah dihancurkan di Unit Bisnis Daur Ulang (Recycle Business Unit/RBU) di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pada 1 Agustus 2025. (Xinhua/Ramhat Dian P)
Plastik alami tim ilmuwan Australia diproduksi dari gula limbah makanan untuk menggantikan plastik berbahan minyak bumi.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan Australia berhasil mengembangkan film plastik alami berbahan gula dari limbah makanan yang dapat menggantikan plastik berbahan dasar minyak bumi, menawarkan material alternatif baru yang bisa digunakan dalam industri makanan maupun pertanian dan dapat dibuat menjadi kompos.Penelitian yang dipimpin oleh Universitas Monash Australia (MON) ini menyoroti potensi jenis plastik biodegradable baru yang dibuat dengan mengubah gula dalam limbah makanan menjadi biopolimer polihidroksialkanoat (PHA), papar pernyataan MON yang dirilis pada Jumat (3/10)."Penelitian ini menunjukkan bagaimana limbah makanan dapat diubah menjadi selaput film ultratipis yang berkelanjutan dan dapat terurai menjadi kompos, dengan sifat yang dapat disesuaikan," kata Edward Attenborough dari Fakultas Teknik Kimia dan Biologi MON.Dengan memilih galur-galur bakteri yang berbeda dan mencampurkan polimer mereka, para peneliti berhasil memproduksi film yang menyerupai plastik konvensional dan dapat dicetak menjadi bentuk lain atau benda padat, urai pernyataan tersebut.Karena produksi plastik global telah melampaui 400 juta ton setiap tahunnya, yang sebagian besar merupakan plastik sekali pakai, penelitian ini menyediakan kerangka kerja untuk merancang bioplastik untuk kemasan yang peka terhadap suhu, film medis, dan produk lainnya, guna mengatasi tantangan global dari limbah plastik sekali pakai, ungkap pernyataan tersebut.Para peneliti memberi makan dua jenis bakteri yang hidup di tanah, yakni Cupriavidus necator dan Pseudomonas putida, dengan "asupan" gula seimbang disertai campuran yang tepat dari garam, nutrien, dan elemen kelumit (trace element), papar penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Inggris Microbial Cell Factories tersebut.Setelah mikroba-mikroba tersebut menghasilkan material plastik di dalam selnya, para peneliti kemudian mengekstrak dan mencetaknya menjadi film ultratipis setebal sekitar 20 mikron. Mereka lalu menguji elastisitas, kekuatan, serta karakteristiknya saat dipanaskan hingga meleleh."Sifat PHA yang serbaguna memungkinkan kita mengubah material yang kita andalkan setiap hari tanpa harus mengorbankan lingkungan seperti jika menggunakan plastik konvensional," ujar Attenborough, seraya menekankan bahwa temuan ini dapat membuka peluang bagi alternatif kemasan baru yang berkelanjutan, terutama jika kemasan tersebut dapat diubah menjadi kompos bersama limbah makanan atau pertanian.Para peneliti mengungkapkan bahwa mereka sedang bekerja sama dengan mitra-mitra industri untuk mengembangkan kemasan biodegradable dan solusi medis dengan potensi aplikasi komersial.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Museum Zoologi Bogor simpan jutaan spesimen fauna, terbesar di Asia Tenggara
Indonesia
•
10 Dec 2025

Provinsi pegunungan di China adopsi teknologi AI dalam bidang pertanian
Indonesia
•
12 Sep 2024

Pesawat amfibi AG600M China rampungkan penerbangan uji coba penting
Indonesia
•
15 Jan 2024

Feature – Menengok kota masa depan di Hong Kong yang hadirkan berbagai teknologi mutakhir
Indonesia
•
05 Jul 2023
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026

Astronom di Australia identifikasi kandidat planet mirip Bumi yang layak huni
Indonesia
•
28 Jan 2026
