
Platform dokter digital berteknologi AI layani penyakit Parkinson

Ilustrasi. (Alexas_Fotos on Unsplash)
Platform dokter digital berbasis kecerdasan buatan untuk penyakit Parkinson mampu menjawab hingga 90 persen pertanyaan rutin dari pasien, sehingga para dokter dapat lebih fokus pada perawatan kasus yang lebih kompleks.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Seiring dengan percepatan penuaan populasi di China, penyakit Parkinson mulai muncul sebagai kondisi kronis yang semakin umum di kalangan warga lanjut usia (lansia), sehingga mendorong Rumah Sakit Xuanwu dari Universitas Kedokteran Ibu kota di Beijing untuk meluncurkan platform dokter digital berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pertama di negara tersebut khusus untuk penyakit Parkinson.
Dibangun berdasarkan data klinis dan literatur medis, platform itu dirancang untuk mengurangi konsultasi yang berulang dan memberikan kemudahan bagi pasien dalam mengakses informasi yang tepercaya.
Dipimpin oleh tim peneliti penyakit Parkinson di rumah sakit tersebut, sistem AI itu mengintegrasikan hasil penelitian klinis Rumah Sakit Xuanwu selama lebih dari 20 tahun, yang mencakup rekam medis, studi, laporan, dan materi edukasi, serta literatur yang telah melalui proses tinjauan sejawat.
Menurut Chen Biao, direktur pusat penelitian dan perawatan klinis penyakit Parkinson di rumah sakit tersebut, AI tersebut mampu menjawab hingga 90 persen pertanyaan rutin dari pasien, sehingga para dokter dapat lebih fokus pada perawatan kasus yang lebih kompleks.
Dengan menggunakan ponsel pintar mereka, para pasien dapat mengajukan pertanyaan mengenai penyakit Parkinson kepada dokter AI dan menerima jawaban yang berbasis ilmiah. Meskipun sistem ini efektif dalam menangani pertanyaan-pertanyaan umum, platform tersebut tidak memberikan saran pengobatan yang spesifik, guna memastikan bahwa pengambilan keputusan klinis tetap berada di tangan para dokter.
Selain itu, platform tersebut juga menyediakan tautan langsung ke layanan rumah sakit daring Rumah Sakit Xuanwu untuk pemesanan janji temu dan layanan resep obat.
Ke depannya, platform tersebut akan diintegrasikan dengan perangkat yang dapat dikenakan (wearable devices) guna mendukung panduan pengobatan, pelatihan rehabilitasi, perawatan sehari-hari, serta dukungan psikologis, sehingga membangun kemitraan perawatan jangka panjang yang komprehensif antara pasien dan dokter, tutur Chen.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti BRIN petakan sebaran keanekaragaman udang Mysid di Indonesia
Indonesia
•
21 Jul 2024

Perusahaan Swiss luncurkan pabrik penyedot CO2 dari udara
Indonesia
•
29 Jun 2022

Arab Saudi luncurkan pusat AI untuk media
Indonesia
•
22 Feb 2024

China mulai bangun kapal kontainer listrik besar untuk kurangi emisi karbon
Indonesia
•
08 Nov 2024


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
