
Ratusan ribu pengungsi di Kongo terancam Ebola, PBB keluarkan peringatan darurat

Para pencari suaka beristirahat di kamp Kigonze untuk pengungsi internal (internally displaced people/IDP) di pinggiran Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, pada 9 Juni 2026. (Xinhua)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Kepadatan berlebih dan buruknya sanitasi di kamp-kamp pengungsian di Republik Demokratik (RD) Kongo meningkatkan risiko penularan Ebola, demikian badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan pada Jumat (19/6).
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan bahwa lebih dari 270.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, berlindung di lebih dari 60 lokasi di seluruh Provinsi Ituri, dan banyak dari lokasi tersebut tidak memiliki akses yang memadai terhadap air, sanitasi, dan layanan kesehatan.
OCHA mengatakan PBB telah menerima sejumlah laporan dari para mitra lokal bahwa antara Rabu (17/6) dan Kamis (18/6), sedikitnya 13 orang meninggal dunia di dua kamp di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri. Tim tanggap darurat saat ini sedang menyelidiki secara mendesak apakah kematian-kematian tersebut terkait dengan Ebola. Sejak April, sedikitnya 62 kematian telah dilaporkan di kamp-kamp di sekitar kota tersebut.
"Kematian-kematian ini terjadi di tengah merebaknya Ebola yang lebih luas di Bunia, di mana ketidakpercayaan terhadap fasilitas kesehatan, kepadatan penduduk, kesenjangan dalam langkah-langkah pencegahan, serta penanganan jenazah yang tidak aman mendorong risiko penularan di kalangan penghuni kamp pengungsian," kata OCHA. "Hal ini sangat mengkhawatirkan karena Provinsi Ituri masih menjadi episentrum wabah tersebut, dengan menyumbang lebih dari 90 persen kasus yang terkonfirmasi."
OCHA mengatakan bahwa hingga Rabu, otoritas setempat telah melaporkan 896 kasus Ebola terkonfirmasi di Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
OCHA mengatakan bahwa pihaknya sedang bekerja sama dengan para mitra dan otoritas setempat untuk memperkuat keterlibatan masyarakat serta meningkatkan upaya kesehatan dan sanitasi di kamp-kamp pengungsian. Langkah-langkah yang saat ini diterapkan masih belum memadai mengingat skala kebutuhan yang ada.
"Wabah Ebola ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang lebih luas," kata OCHA, seraya menambahkan bahwa rencana respons kemanusiaan tahun 2026 yang membutuhkan dana sebesar 1,4 miliar dolar AS berupaya merespons seluruh spektrum kebutuhan kemanusiaan, termasuk ketahanan pangan, perlindungan, air dan sanitasi, layanan kesehatan dan pendidikan, bagi 7,3 juta warga RD Kongo yang paling rentan.
*1 dolar AS = 17.826 rupiah
Namun, seruan pendanaan tersebut baru terkumpul lebih dari setengahnya, kata OCHA.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

15 negara, termasuk Indonesia, terpilih jadi anggota Dewan HAM PBB
Indonesia
•
12 Oct 2023

COVID-19 – Polisi Belanda tembaki demonstran
Indonesia
•
22 Nov 2021

AS sebut Tunisia rusak institusi demokrasi karena memecat puluhan hakim
Indonesia
•
03 Jun 2022

Sedikitnya 25 warga Palestina tewas akibat serangan Israel di Gaza City
Indonesia
•
20 Mar 2025


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
