
WHO sebut ribuan pasien di Gaza meninggal dunia saat menunggu evakuasi medis

Foto yang diabadikan pada 1 Februari 2025 ini menunjukkan seorang pasien (kiri) pindahan dari Jalur Gaza di Rumah Sakit Al Arish di Provinsi Sinai Utara, Mesir. (Xinhua)
Ribuan pasien di Gaza meninggal dunia saat menunggu evakuasi medis karena kelangkaan pasokan obat-obatan esensial dan perlengkapan medis yang parah, termasuk yang dibutuhkan untuk pengobatan penyakit jantung.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Antara Juli 2024 hingga 28 November 2025, sekitar 1.092 pasien di Jalur Gaza meninggal dunia saat menunggu evakuasi medis, demikian disampaikan Rik Peeperkorn, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di wilayah Palestina yang diduduki, kepada awak media di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Jumat (12/12), mengutip otoritas kesehatan Gaza.Peeperkorn mengatakan angka tersebut kemungkinan masih lebih rendah dari kondisi sebenarnya dan belum sepenuhnya merepresentasikan situasi di lapangan, karena hanya didasarkan pada kematian yang dilaporkan."WHO menyerukan agar lebih banyak negara bersedia menerima pasien dari Gaza, dan dipulihkannya kembali evakuasi medis ke Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur," ujarnya.Menurut Peeperkorn, 18 dari 36 rumah sakit serta 43 persen pusat layanan kesehatan primer di Gaza masih berfungsi sebagian. Selain itu, terjadi kelangkaan pasokan obat-obatan esensial dan perlengkapan medis yang parah, termasuk yang dibutuhkan untuk pengobatan penyakit jantung.Dia menambahkan bahwa meskipun tingkat persetujuan masuknya pasokan ke Gaza telah membaik, proses pengiriman obat-obatan dan peralatan medis ke Gaza masih "terlalu lambat dan rumit".Peeperkorn juga menyoroti bahwa WHO terus menghadapi kendala dalam memasukkan reagen laboratorium dan komponen penting mesin laboratorium ke Gaza, karena banyak barang ditolak dengan alasan dikategorikan sebagai barang fungsi ganda (dual use). Dia mendesak otoritas Israel untuk memberikan "persetujuan menyeluruh" bagi masuknya pasokan medis ke Gaza "agar kebutuhan mendesak dapat ditangani".Selain itu, Peeperkorn mengatakan Badai Byron telah menghantam Gaza dengan kuat, memperparah penderitaan keluarga-keluarga yang sudah mengungsi. Kondisi musim dingin, ditambah buruknya akses air bersih dan sanitasi, diperkirakan akan memicu lonjakan infeksi saluran pernapasan akut, hepatitis, serta penyakit diare, imbuhnya."Anak-anak, orang lanjut usia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis masih menjadi kelompok yang paling berisiko," kata Peeperkorn.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Wawancara – Pakar AS sebut China dan AS dapat lanjutkan kerja sama kesehatan
Indonesia
•
14 Dec 2022

COVID-19 – 56 persen perempuan di Arab Saudi pilih melahirkan di rumah
Indonesia
•
08 Jul 2020

Hamas sebut bantuan yang masuk ke Gaza hanya penuhi kurang dari 1 persen kebutuhan penduduk
Indonesia
•
26 May 2025

Pakar serukan peningkatan kesadaran publik untuk atasi perubahan iklim di Eropa
Indonesia
•
08 Oct 2024


Berita Terbaru

Di New York, Taiwan tunjukkan kepeloporan dalam kesetaraan gender
Indonesia
•
17 Mar 2026

Ramadan 1447H – Kamar Dagang China di Indonesia beri bantuan kepada buruh rentan, via kerja sama dengan Serikat Buruh Muslim Indonesia
Indonesia
•
13 Mar 2026

Feature – Pengobatan tradisional China solusi kesehatan mental di zaman modern
Indonesia
•
14 Mar 2026

Mengintip aksi pendongeng hibur murid SD di Banten
Indonesia
•
11 Mar 2026
