
Feature – Pengungsi Lebanon bergegas pulang ke rumah di tengah kegembiraan, kehilangan, dan ketidakpastian

Para pengungsi mengendarai sebuah mobil dalam perjalanan kembali ke kampung halaman mereka di daerah al-Zahrani, Lebanon selatan, pada 27 November 2024. (Xinhua/Ali Hashisho)
Saat perjanjian gencatan senjata antara Lebanon dan Israel mulai diberlakukan pada 27 November, ribuan pengungsi Lebanon segera mengumpulkan barang-barang mereka dan memulai perjalanan yang telah lama dinantikan untuk kembali ke rumah mereka di Lebanon selatan.
Beirut, Lebanon (Xinhua/Indonesia Window) – Di saat perjanjian gencatan senjata antara Lebanon dan Israel mulai diberlakukan pada Rabu (27/11), Jihad Nasrallah, bersama ribuan pengungsi Lebanon lainnya, tidak menyia-nyiakan waktu. Sebelum matahari terbit, mereka mengumpulkan barang-barang mereka dan memulai perjalanan yang telah lama dinantikan untuk kembali ke rumah mereka di Lebanon selatan.Jalan-jalan dipenuhi oleh para pengungsi yang ingin pulang. Wajah mereka menunjukkan perpaduan antara kegembiraan dan kesedihan yang belum sirna. Banyak dari mereka telah mengungsi selama lebih dari satu tahun, dan kepulangan mereka ditandai dengan kebahagiaan karena dapat memiliki kembali rumah mereka sekaligus kesedihan akibat kerugian panen, hancurnya properti, dan tewasnya orang-orang terkasih selama konflik."Para pengungsi hampir tidak bisa tidur, dengan penuh semangat menunggu fajar," kata Jihad kepada Xinhua. "Ada air mata kegembiraan saat orang-orang mengucapkan selamat tinggal kepada satu sama lain, dan klakson mobil bergema sebagai bentuk perayaan."Di Desa Kfarhamam di sebelah tenggara Lebanon, sebagian besar pengungsi yang kembali ke rumah mereka telah kehilangan tempat tinggal akibat pengeboman Israel. Namun, penduduk desa tidak terpengaruh karena prioritas mereka adalah tidak lagi mengungsi dan kembali ke kampung halaman mereka, menurut seorang pemuda bernama Hassan Abdul Karim."Mengungsi adalah hal yang tidak adil, memalukan, dan sangat meresahkan," ujar Abdul Karim kepada Xinhua. "Kami lebih suka tinggal di tenda-tenda di atas reruntuhan rumah kami daripada harus tinggal di aula sekolah, berdesakan dengan lima sampai delapan keluarga lainnya. Jadi kami pulang, membawa kasur dan selimut di atap mobil kami."Tentara Lebanon bergerak saat fajar menyingsing, mengerahkan buldoser dan truk untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak akibat serangan udara di Lembah Bekaa dan Lebanon selatan. Sementara itu, para anggota Pasukan Keamanan Dalam Negeri Lebanon mengatur lalu lintas di persimpangan-persimpangan utama, sementara tim medis dari Palang Merah Lebanon dan Otoritas Kesehatan Islam menempatkan diri di pintu-pintu masuk kota untuk menangani keadaan darurat.
Para pengungsi kembali ke kampung halaman mereka setelah pemberlakuan gencatan senjata di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada 27 November 2024. (Xinhua/Str)
Sejumlah kendaraan yang membawa orang-orang yang hendak kembali ke kampung halaman mereka terjebak di tengah kemacetan di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada 27 November 2024. (Xinhua/Str)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Mesin matcha otomatis diluncurkan di China timur
Indonesia
•
02 Apr 2024

COVID-19 – Infeksi terpanjang tercatat selama 505 hari
Indonesia
•
22 Apr 2022

Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza tembus 28.000 orang
Indonesia
•
12 Feb 2024

Kisah petani Palestina yang merintis budi daya safron di Tepi Barat
Indonesia
•
04 Feb 2023


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
