Sesuatu yang lebih kecil dari upil

Sesuatu yang lebih kecil dari upil

Ilustrasi. (ARadhwa)

Kalian pernah kan (maaf) melihat upil?

Jika ada teman sedang mengupil, kalian pasti bilang, "Hiiiyyy…jangan ngupil di sini dong! Jorok!" ?

Oke, ini sepenuhnya bukan soal upil, tapi tentang "sesuatu" yang lebih kecil dari kotoran hidung.

Ini adalah sesuatu yang sering dihadapi anak-anak seperti aku, dan juga orang dewasa.

Apa sich yang lebih kecil dari upil?

Apakah itu sebutir pasir?

Setitik debu?

Ataukah seekor semut?

Ternyata bukan semuanya. Sesuatu itu adalah "masalah".

Masalah

Seperti yang aku bilang sebelumnya, semua orang pasti punya masalah, dan semua masalah itu sebenarnya kecil aja.

Menurutku, masalah bisa jadi besar kalau kita cepat stress dan baper (terbawa perasaan) saat sedang menghadapinya.

Dikit-dikit panik.

Dikit-dikit galau.

Akhirnya, sesuatu yang awalnya kecil menjadi besar.

Padahal, masalah itu pasti selalu ada dalam hidup kita sebagai ujian yang datangnya dari Allah ﷻ.

Kata orangtuaku, semua orang pasti bisa menyelesaikan ujiannya karena Allah ﷻ ga mungkin memberikan ujian di luar kemampuan kita.

Kawan-kawan sekolah aku banyak yang pusing karena merasa masalah mereka sangat berat.

Misalnya, mereka marahan sama teman, bertengkar dengan sahabat, cemburu dengan barang barunya teman, kehilangan barang kesayangan lalu  menangis, di-PHP (Pemberi Harapan Palsu) orangtua pergi liburan, atau gadget disita orangtua. Gegara ini semua mereka jadi stress!

Aku bilang, NO besar!

Itu semua hal yang remeh-temeh karena ada banyak masalah yang lebih besar dari itu.

Aku baca di internet tentang perang di Palestina, kelaparan di Ethiopia, tsunami dan gempa di Palu, dan bencana lainnya di seluruh dunia. Tapi mereka yang kena musibah itu tetap bertahan di kampung halaman dan rumah mereka yang sudah porak poranda.

Di tempat-tempat itu, anak-anak menangis dan banyak yang mati karena perang dan musibah, sementara kita di sini berurai air mata hanya karena masalah yang sama sekali ga penting.

Tapi kku juga lihat anak-anak seusiaku dan yang lebih kecil lagi tetap bisa bermain, dan belajar kalau ada yang memberikan mereka buku dan pena.

Makanya, aku bilang masalah itu bisa jadi keciiiil atau besaaar karena kita sendiri yang membuatnya jadi begitu.

Seperti ini nich, kalau kita lagi bertengkar dengan teman di sekolah, harusnya langsung minta maaf saja jika memang bersalah.

Kalau tidak bersalah? Ya minta maaf juga.

Sebab lebih baik minta maaf dari pada membiarkan masalah itu jadi lebih besar yang lama-lama bisa bikin otak jadi kacau dan hati jadi resah. Kalau sudah begitu, apa-apa jadi ga enak. Malas belajar, ga mau bergaul dengan teman, atau jadi uring-uringan ga jelas.

Aku ingat kisah Nabi Yusuf ‘alaihi salam yang dengan cepat memaafkan saudara-saudara tirinya yang sudah melemparkannya ke dalam sumur hanya karena dengki.

Meskipun Nabi Yusuf ‘alahi salam sudah dijahatin seperti itu, dia tidak dendam atau ingin membalas kejahatan saudara-saudaranya.

Nabi Yusuf ‘alaihi salam tidak membesar-besarkan masalahnya. Makanya, kisahnya pun happy ending.

Penulis: ARadhwa Sagena Hasyim (murid kelas 6; tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur)

Bagikan

Komentar

Wiwi

Invalid Date

“Kadang-kadang upil orang lain lebih nampak dari upil sendiri” ? Kembangkan terus bakatnya nak Radhwa, sukses ya

ANAK KECIL ITU MENUKIL SAPARDI DJOKO DAMONO… | MUSIM ILALANG

Invalid Date

[…] Ya, di balik sifat pemalunya yang kadang “tallewa’-lewa'”, dia adalah anak kecil yang gemar memikirkan sesuatu dengan logikanya sendiri lalu menulisnya. Yang “merepotkan” adalah dia tidak ingin diintervensi. Termasuk soal judul dan isi tulisan. Pernah dia bad mood saat tulisannya diubah. Pernah dia keukeuh bertahan agar judulnya harus tetap ada kata “upil” (baca https://indonesiawindow.com/sesuatu-yang-lebih-kecil-dari-upil/). […]

Berita Terkait