Corona memang virus yang menyeramkan karena sudah menjangkiti ratusan ribu orang dan menewaskan ribuan jiwa di seluruh dunia. Tapi ada yang lebih berbahaya dari virus ini.
Apa itu?
Ia adalah ghibah!
Artinya, suka
ngomongin seseorang tentang hal-hal yang orang itu sebenarnya
gak suka. Seperti tentang wajahnya, keluarganya, baju yang dipakainya, atau sifat-sifatnya.
Aku lihat di internet gambar-gambar orang yang suka ghibah. Mereka disamakan dengan orang yang makan bangkai manusia. Maka, dosanya sama saja dengan makan bangkai tangan, kaki, atau kepala orang yang dighibah.
Hiiiyyy...seperti kanibal
dong, alias pemakan manusia.
Makanya, kita
gak usah mengghibah orang karena
gak ada manfaatnya. Meskipun apa yang kita bicarakan tentang orang tersebut benar, tetap
aja itu namanya ghibah.
Malah kita rugi
banget loh, sebab pahala orang yang mengghibah bakal pindah ke orang yang dighibah.
Trus, dosa orang yang dighibah dikasih ke orang yang mengghibah. Begitu
sih yang pernah kudengar.
Aku juga tahu tetang ghibah setelah baca buku "Seni Bergaul ala Rasul" karya Didi Junaedi.
Dia menulis, jika yang kita bicarakan itu memang benar ada pada orang yang dibicarakan, maka itu adalah ghibah. Tapi, kalau hal itu
gak benar, maka itu namanya
buhtan atau dusta, atau sama
aja dengan fitnah.
Di halaman 55 buku itu aku baca, pelaku ghibah diibaratkan sebagai pemakan daging saudaranya yang telah mati. Sebuah tamsil yang sangat menjijikkan.
Kalau kamu lagi bercakap-cakap dengan teman-temanmu, lalu ada yang membicarakan keburukan orang lain, cepat-cepatlah menghentikan obrolan itu, atau ganti topik pembicaraan. Karena kalau tidak begitu, ghibah akan cepat menular ke semua orang, termasuk yang sebelumnya
gak ghibah. Kalau semua orang sudah mengghibah, maka sangat sulit menghentikannya karena tidak ada seorang pun yang sadar bahwa itu perbuatan salah.
Jadi seperti virus, kan?
RasulullahKalian tahu? Nabi Muhammad ﷺ dulu sering dighibah, bahkan dibenci se-kota Makkah dan diancam akan dibunuh.
Rumahnya juga dilempari kotoran manusia dan batu.
Waktu itu,
gak ada yang percaya pada Nabi ﷺ dan berani membelanya, kecuali istri beliau, Sitti Khadijah radhiallahu ‘anhu.
Tapi, Nabi Muhammad ﷺ selalu sabar dan tidak pernah membalas semua kejahatan itu. Justru, Nabi Muhammad ﷺ membantu orang-orang yang melempar kotoran ke rumah beliau. Bahkan, ada yang dirawatnya hingga sembuh ketika ada yang jatuh sakit. Akhirnya, orang yang semula jahat itu jadi sadar dan mengikuti ajaran Nabi ﷺ.
Selanjutnya, satu demi satu orang memeluk Islam hingga bertambahlah pengikut Islam sampai saat ini.
Penulis: ARadhwa Sagena Hasyim (murid kelas 6 SD Muhammadiyah 4 Samarinda, Kalimantan Timur; penulis novel kembar berjudul ASGIT 1 dan ASGIT 2, serta buku puisi berjudul “Sia-sia Saja Air Matamu”)