
Peneliti Australia kembangkan alat AI untuk perangi gambar ‘deepfake’ berbahaya

Orang-orang mengunjungi Light of Internet Expo World Internet Conference (WIC) 2025 di Wuzhen, Provinsi Zhejiang, China timur, pada 6 November 2025. (Xinhua/Huang Zongzhi)
Silverer mengubah piksel untuk mengecoh model AI, dan hasil produksinya akan memiliki kualitas yang sangat rendah, dipenuhi pola buram, atau bahkan tidak dapat dikenali sama sekali.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti Universitas Monash di Australia, bekerja sama dengan Kepolisian Federal Australia (Australian Federal Police/AFP), mengembangkan alat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) baru untuk memerangi gambar deepfake yang berbahaya. Deepfake merupakan teknik memanipulasi gambar atau video menggunakan AI untuk membuat konten baru yang terlihat asli dan meyakinkan.Alat pengacau baru ini, di antara berbagai aplikasinya yang luas, dapat memperlambat dan menghentikan para pelaku kejahatan memproduksi material pelecehan anak yang dihasilkan oleh AI, gambar serta video deepfake, dan sebagainya, menurut pernyataan Universitas Monash yang dirilis pada Senin (10/11).Dikenal sebagai ‘peracunan data’ (data poisoning), teknik ini melibatkan perubahan halus pada data untuk membuat praktik memproduksi, memanipulasi, dan menyalahgunakan gambar atau video menggunakan program AI menjadi jauh lebih sulit, menurut AI for Law Enforcement and Community Safety (AiLECS), yang merupakan proyek kolaborasi antara AFP dan Universitas Monash.Alat AI dan pembelajaran mesin (machine learning) mengandalkan kumpulan data daring yang besar. Meracuni data ini dapat mengakibatkan keduanya memproduksi output yang tidak akurat, bias, atau rusak, menjadikannya lebih mudah untuk mengidentifikasi gambar atau video palsu yang dimanipulasi oleh pelaku kejahatan, dan juga dapat membantu para penyidik dengan mengurangi volume material palsu yang harus diperiksa, kata para peneliti.Alat pengacau AI ini, yang disebut "Silverer" dan saat ini masih dalam tahap prototipe, dirancang untuk mengembangkan dan terus meningkatkan teknologi yang akan mudah digunakan bagi masyarakat umum Australia yang ingin melindungi data mereka di media sosial, ujar para peneliti."Sebelum seseorang mengunggah gambar ke media sosial atau internet, mereka dapat memodifikasinya menggunakan Silverer. Hal ini akan mengubah piksel untuk mengecoh model AI, dan hasil produksinya akan memiliki kualitas yang sangat rendah, dipenuhi pola buram, atau bahkan tidak dapat dikenali sama sekali," papar Elizabeth Perry, peneliti sekaligus pemimpin proyek AiLECS dan kandidat PhD di Universitas Monash.AFP melaporkan adanya peningkatan material pelecehan anak yang dihasilkan oleh AI, yang dapat dengan mudah diproduksi dan disebarkan oleh pelaku kejahatan menggunakan teknologi sumber terbuka (open-source) dengan pembatasan akses yang sangat rendah, menurut Campbell Wilson, ahli forensik digital yang juga salah satu direktur AiLECS.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China kembangkan robot 4D dengan persepsi sentuhan
Indonesia
•
01 Oct 2021

Tim ilmuwan China kembangkan purwarupa baterai ion hidrida pertama
Indonesia
•
22 Sep 2025

China tambah 654.000 menara BTS 5G pada 2021
Indonesia
•
21 Jan 2022

Detektor neutrino berbentuk bola transparan terbesar di dunia mulai diisi air ultramurni
Indonesia
•
23 Dec 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
