
Situasi Suriah rapuh saat 2 juta pengungsi pulang

Dua anak beristirahat di sebuah bangku saat dievakuasi dari Kamp al-Hol di Provinsi al-Hasakah, Suriah timur laut, pada 15 Juni 2025. (Xinhua/Str)
Situasi Suriah "rapuh dan penuh harapan" seiring dengan semakin banyaknya para pengungsi yang pulang ke rumah mereka.
Damaskus, Suriah (Xinhua/Indonesia Window) – Komisaris Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) Filippo Grandi pada Jumat (20/6) menuturkan bahwa situasi Suriah "rapuh dan penuh harapan" seiring dengan semakin banyaknya para pengungsi yang pulang ke rumah mereka.Dalam konferensi pers yang digelar di Damaskus bertepatan dengan peringatan Hari Pengungsi Sedunia, Grandi mengungkapkan bahwa sekitar 2 juta warga Suriah telah pulang sejak Desember 2024. Angka tersebut mencakup baik pengungsi yang kembali dari luar negeri maupun warga yang sebelumnya mengungsi secara internal. Grandi saat ini sedang berada di Suriah dalam kunjungan keduanya ke negara itu sepanjang tahun ini.Grandi mengatakan kepada Xinhua bahwa sekitar 1,4 hingga 1,5 juta orang yang mengungsi di Suriah telah kembali ke rumah mereka, sementara sekitar 600.000 orang telah pulang dari negara-negara tetangga, termasuk Lebanon, Yordania, dan Turkiye. "Dua juta masih merupakan sebagian kecil dari jumlah keseluruhan, namun tetap signifikan."Grandi mengungkapkan bahwa situasi di Sudan kini telah menjadi krisis pengungsian terbesar di dunia, menggeser posisi Suriah. Saat ini, sekitar 14 juta orang mengungsi di Sudan, terdiri dari 10 juta pengungsi internal dan 4 juta lainnya yang mengungsi ke luar negeri."Ini kompetisi yang menyedihkan," katanya. "Namun, turunnya Suriah dari posisi teratas menandakan adanya peluang untuk mengakhiri krisis ini."Meskipun demikian, Grandi memperingatkan kondisi yang sulit dan mendesak dukungan internasional yang lebih besar."Infrastruktur, rumah, energi, listrik, kesehatan, dan layanan pendidikan semuanya perlu dibangun kembali agar kepulangan para pengungsi dapat berlangsung secara berkelanjutan," katanya. "Saya mengimbau masyarakat internasional untuk membantu Suriah menghadapi tantangan ini."Grandi mengatakan bahwa layanan-layanan dasar, keamanan, dan pendanaan rekonstruksi sangat dibutuhkan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Google pecat insinyur perangkat lunak yang klaim chatbot AI-nya hidup
Indonesia
•
24 Jul 2022

Sektor perawatan kesehatan Jerman kekurangan tenaga kerja terampil
Indonesia
•
18 Nov 2024

Panda raksasa kelahiran AS yang dipulangkan ke China tampil di depan publik
Indonesia
•
29 Dec 2023

Kekeringan singkap kota berusia 3400 tahun di Sungai Tigris Irak
Indonesia
•
02 Jun 2022


Berita Terbaru

Di New York, Taiwan tunjukkan kepeloporan dalam kesetaraan gender
Indonesia
•
17 Mar 2026

Ramadan 1447H – Kamar Dagang China di Indonesia beri bantuan kepada buruh rentan, via kerja sama dengan Serikat Buruh Muslim Indonesia
Indonesia
•
13 Mar 2026

Feature – Pengobatan tradisional China solusi kesehatan mental di zaman modern
Indonesia
•
14 Mar 2026

Mengintip aksi pendongeng hibur murid SD di Banten
Indonesia
•
11 Mar 2026
