
Stasiun luar angkasa China akan teliti regenerasi planaria

Gambar simulasi yang diabadikan di Pusat Kendali Antariksa Beijing (Beijing Aerospace Control Center/BACC) pada 30 Oktober 2024 ini menunjukkan pesawat luar angkasa berawak Shenzhou-19 melakukan penambatan (docking) di porta depan modul inti stasiun luar angkasa Tianhe. (Xinhua/Han Qiyang)
Studi tentang planaria memiliki implikasi yang mendalam untuk memahami mekanisme seluler manusia dalam memerangi penuaan dan meningkatkan umur panjang.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Stasiun luar angkasa China akan memperkenalkan anggota baru dalam eksperimen sains luar angkasanya, yaitu planaria, makhluk yang terkenal dengan kemampuan regenerasi yang luar biasa, demikian dilansir China Media Group pada Sabtu (22/3).Planaria, cacing pipih dengan sejarah evolusi selama lebih dari 520 juta tahun, adalah salah satu model hewan percobaan yang banyak digunakan dalam penelitian biologi. Organisme ini menunjukkan kapasitas yang luar biasa untuk perbaikan jaringan: ketika dibelah, planaria dapat meregenerasi otot yang hilang, kulit, usus, dan bahkan seluruh otak dari setiap segmen, sebuah proses yang dapat diulang tanpa batas waktu.Studi tentang planaria memiliki implikasi yang mendalam untuk memahami mekanisme seluler manusia dalam memerangi penuaan dan meningkatkan umur panjang, menurut Pusat Teknologi dan Rekayasa untuk Pemanfaatan Luar Angkasa di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Para peneliti bermaksud untuk menyelidiki bagaimana lingkungan luar angkasa memengaruhi proses regeneratif dan perilaku fisiologis planaria. Mereka juga akan mengeksplorasi mekanisme molekuler di balik efek pada regenerasi planaria yang disebabkan oleh luar angkasa, sehingga memajukan pemahaman kita tentang biologi regeneratif.Inisiatif ini mengikuti keberhasilan penyertaan ikan zebra dan lalat buah dalam eksperimen sains yang dilakukan di stasiun luar angkasa China.Para peneliti menggunakan ikan zebra untuk menyelidiki dampak mikrogravitasi pada protein otot dan tulang vertebrata, sembari melakukan eksperimen lalat buah untuk memahami pertumbuhan, perkembangan, karakteristik alat gerak, dan ritme biologis mereka dalam kondisi mikrogravitasi dan hipomagnetik di luar angkasa.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Reruntuhan kompleks lumbung di jalur air kuno ditemukan di China utara
Indonesia
•
24 Dec 2024

SMK Yogyakarta menang kompetisi robot internasional di Malaysia
Indonesia
•
18 Sep 2019

Sekjen PBB luncurkan badan penasihat di bidang AI
Indonesia
•
27 Oct 2023

Teknologi analisa ‘fingerprint’ LEMIGAS tingkatkan ekplorasi migas
Indonesia
•
03 Dec 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
