95 tewas akibat kelaparan dan penyakit di kamp pengungsi Sudan bagian barat dalam 40 hari terakhir

Seorang wanita pengungsi dan sejumlah anak-anak duduk di dalam sebuah tenda yang terbuat dari kayu dan kain di Tawila, Darfur Utara, Sudan, pada 8 Agustus 2025. (Xinhua/Program Pangan Dunia PBB)
Sudan masih dilanda konflik yang kian luas antara SAF dan RSF, yang dimulai pada April 2023, menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi, sehingga memperparah krisis kemanusiaan di negara tersebut.
Khartoum, Sudan (Xinhua/Indonesia Window) – Setidaknya 95 orang tewas akibat kelaparan dan penyakit selama 40 hari terakhir di kamp pengungsian Abu Shouk di El Fasher, Sudan bagian barat, ungkap sejumlah kelompok sukarelawan pada Ahad (28/9).Dalam sebuah pernyataan, Abu Shouk Camp Emergency Room menyatakan bahwa 73 anak balita dan 22 lansia meninggal dunia akibat kelaparan dan penyakit di antara para penghuni kamp."Situasi keamanan dan kemanusiaan di El Fasher masih genting. Warga menghadapi kekurangan makanan, air, dan layanan kesehatan yang parah, terutama para pengungsi yang terputus dari bantuan dan layanan dasar," kata pernyataan tersebut. Kelompok sukarelawan itu memperingatkan tentang krisis kesehatan yang membayangi, menyebut adanya jenazah-jenazah yang belum dikuburkan di seluruh kota di tengah kerawanan situasi keamanan yang terus berlanjut. Kelompok tersebut juga mendesak organisasi-organisasi internasional untuk membuka koridor aman bagi warga sipil yang melarikan diri dari konflik.Coordination of Resistance Committees di El Fasher, yang merupakan kelompok relawan lainnya, mengonfirmasi angka kematian tersebut dan melaporkan penurunan tajam dalam kondisi kemanusiaan. Kelompok ini menyebutkan tentang penembakan yang terus berlangsung, kolapsnya layanan dasar, serta penutupan sebagian besar dapur amal akibat kekurangan dana dan lonjakan harga.Pada Kamis (25/9), sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Sudan Doctors Network melaporkan 23 kematian akibat malnutrisi di kalangan anak-anak dan perempuan di El Fasher selama bulan ini. Pada Juli lalu, kelompok tersebut menyatakan bahwa 239 anak meninggal di El Fasher sejak Januari lantaran kelangkaan makanan dan obat-obatan.Bentrokan hebat terus berlangsung di El Fasher sejak Mei 2024. Bentrokan terjadi antara Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) dan pasukan sekutunya di satu pihak, dengan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) di pihak lain. Pertempuran semakin intensif dalam beberapa hari terakhir.Sudan masih dilanda konflik yang kian luas antara SAF dan RSF, yang dimulai pada April 2023. Konflik ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi, sehingga memperparah krisis kemanusiaan di negara tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Beijing optimalkan kebijakan respons COVID di sekolah
Indonesia
•
07 Jan 2023

Group ESQ kokohkan tekad membangun generasi emas berkarakter
Indonesia
•
23 May 2023

Festival Indonesia promosikan masakan nusantara di Korsel
Indonesia
•
23 Sep 2019

COVID-19 – China desak AS bagikan data subvarian Omicron XBB.1.5
Indonesia
•
10 Jan 2023
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Antisipasi wabah Nipah, Singapura akan terapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026
