
Swedia luncurkan program baru untuk tekan kekerasan laki-laki terhadap perempuan

Sebuah pemandangan di ibu kota Swedia, Stockholm. (Raphael Andres on Unsplash)
Keselamatan perempuan kembali menjadi fokus perdebatan publik di Swedia pada akhir Desember 2025 setelah terjadi dua kasus kriminal mengguncang negara Skandinavia tersebut.
Helsinki, Finlandia (Xinhua/Indonesia Window) – Swedia pada Rabu (28/1) meluncurkan sebuah program baru untuk mengatasi hal yang disebut oleh Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson sebagai "salah satu masalah sosial terbesar dan paling mengkhawatirkan" yang dihadapi negara tersebut, yaitu kekerasan laki-laki terhadap perempuan.
Berbicara dalam sebuah konferensi pers di Stockholm, Kristersson mengatakan dirinya akan memimpin sebuah dewan kementerian baru tentang ‘kvinnofrid’ (kedamaian bagi perempuan), yang bertujuan untuk memperkuat koordinasi di seluruh lembaga pemerintah.
Kristersson mengatakan upaya baru tersebut akan menangani kekerasan yang berkaitan dengan gangguan kesehatan mental berat, kekerasan dalam rumah tangga, serta hal yang disebut kekerasan yang berkaitan dengan kehormatan, di mana perempuan menjadi sasaran anggota keluarga. Dia menambahkan kabinetnya telah memutuskan untuk memperketat aturan pembebasan bersyarat dan memperkuat penilaian terhadap pelanggaran yang berulang.
Keselamatan perempuan kembali menjadi fokus perdebatan publik pada akhir Desember 2025 setelah dua kasus yang mendapat perhatian luas, yaitu satu kasus di Ronninge, sebuah distrik di selatan Stockholm, dan satu lagi di Boden, sebuah kota di Swedia utara. Kedua insiden tersebut memicu kembali sorotan terhadap cara pihak berwenang menilai risiko dan menangani pelaku kekerasan berulang.
Di Ronninge, polisi melakukan pencarian besar-besaran setelah seorang perempuan berusia 25 tahun dilaporkan hilang pada 26 Desember 2025 dini hari. Dia ditemukan tewas pada 27 Desember, dan penyelidikan kemudian diklasifikasikan ulang sebagai pembunuhan. Di Boden, polisi merespons panggilan di sebuah kediaman pada 25 Desember 2025 dan kemudian mengonfirmasi seorang perempuan meninggal setelah mengalami kekerasan berat.
Menteri Kehakiman Swedia Gunnar Strommer mengatakan "menjadi perempuan di Swedia seharusnya tidak mengancam nyawa", seraya menambahkan bahwa "laki-laki yang berbahaya harus dipenjara" agar para perempuan merasa aman di ruang publik.
Istilah ‘kvinnofrid’ memiliki akar yang dalam di tradisi hukum Swedia. Catatan sejarah sering mengaitkannya dengan ‘hukum perdamaian’ abad ke-13 yang bertujuan untuk menekan kasus penyerangan dan penculikan terhadap perempuan, meskipun naskah aslinya tidak tersimpan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COP26: Dunia menanti janji negara-negara untuk cegah bencana iklim
Indonesia
•
31 Oct 2021

Presiden Putin harapkan Forum Rusia-Dunia Islam kuatkan saling percaya
Indonesia
•
29 Nov 2019

Haji1442 – Haji 2021 hanya untuk 60.000 warga Saudi dan ekspatriat di kerajaan
Indonesia
•
12 Jun 2021

Srettha Thavisin terpilih jadi PM baru Thailand
Indonesia
•
24 Aug 2023


Berita Terbaru

Feature – Saat ekonomi terpuruk, makanan gratis jadi harapan bagi warga rentan di Sanaa, Yaman
Indonesia
•
17 Mar 2026

Fokus Berita – Misi militer AS di Selat Hormuz ditolak sekutu Eropa
Indonesia
•
17 Mar 2026

Komandan Korps Garda Revolusi sebut Selat Hormuz tidak ditutup, tetapi berada di bawah kendali Iran
Indonesia
•
17 Mar 2026

Iran tak minta gencatan senjata atau negosiasi, siap bela diri selama yang diperlukan
Indonesia
•
17 Mar 2026
