
Ilmuwan China kembangkan teknik penambangan tanah jarang yang ramah lingkungan

Sebuah mesin yang dikendalikan dari jarak jauh beroperasi di bawah tanah di tambang besi Yanqianshan milik Ansteel Mining Co., Ltd. di Kota Anshan, Provinsi Liaoning, China timur laut, pada 16 Maret 2023. (Xinhua)
Teknik penambangan tanah jarang (rare-earth element/REE) yang inovatif, yang disebut penambangan elektrokinetik (electrokinetic mining/EKM), memungkinkan pengambilan REE yang ramah lingkungan, efisien, dan selektif dari lapisan tanah yang mengalami pelapukan.
Guangzhou, China (Xinhua) – Tim ilmuwan China mengembangkan teknik penambangan yang lebih ramah lingkungan dan efisien untuk mengambil elemen tanah jarang (rare-earth element/REE) dari lapisan tanah yang mengalami pelapukan, membuka jalan baru untuk ekstraksi sumber daya alam secara berkelanjutan.Endapan tanah jarang adsorpsi ion merupakan tempat penyimpanan utama untuk REE berat. Saat ini endapan tersebut ditambang menggunakan teknik pelindian (leaching) berbasis garam amonium yang menyebabkan kerusakan lingkungan parah dengan tingkat pengambilan yang rendah.Guna mengatasi masalah ini, tim peneliti yang dipimpin oleh He Hongping dari Institut Geokimia Guangzhou di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) telah merancang teknik penambangan REE inovatif yang disebut penambangan elektrokinetik (electrokinetic mining/EKM), yang memungkinkan pengambilan REE yang ramah lingkungan, efisien, dan selektif dari lapisan tanah yang mengalami pelapukan.Kelayakan EKM ditunjukkan oleh tim He melalui eksperimen skala laboratorium, skala besar, dan skala lapangan tahun lalu. Kini, mereka telah meluncurkan uji coba industrial pertama dan berhasil membangun proyek peragaan dengan 5.000 ton tanah.Dibandingkan dengan teknik konvensional, teknik EKM mencatatkan kenaikan tingkat pengambilan sebesar 30 persen, penurunan penggunaan bahan pelindian sebesar 80 persen, penurunan durasi penambangan sebesar 70 persen, penurunan kotoran logam sebesar 70 persen dalam lindi REE yang diperoleh, dan penurunan emisi amonium sebesar 90 persen, papar tim itu.Berdasarkan hasil tersebut, tim itu telah memublikasikan 11 makalah di jurnal Nature Sustainability dan beberapa jurnal lainnya.Upaya lebih lanjut akan dilakukan untuk mempercepat penerapan industri dari hasil-hasil terkait.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 - Peneliti Taiwan temukan antibodi COVID-19
Indonesia
•
29 May 2020

Ilmuwan China temukan mimikri semut dari pertengahan Zaman Kapur
Indonesia
•
18 Jan 2022

Ilmuwan Australia temukan protein yang bisa bantu lawan kanker dan perlambat penuaan
Indonesia
•
08 Jul 2025

Studi ungkap Sungai Kuning modern mulai terbentuk 1,25 juta tahun lalu
Indonesia
•
22 Aug 2022


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
